Menilik Kampung Jamu Para Lansia, Minum Kefir Setiap Hari, Lever Slamet Membaik

Tuesday, 10 June 2008 SURABAYA-Para lansia di kompleks Perumahan Kosagrha patut berbangga. Lewat Karang Werda Kosagrha, mereka berhasil memproduksi minuman kefir, hasil fermentasi susu rendah lemak. Minuman ini cocok bagi penderita sejumlah penyakit, termasuk lever dan maag.
Yang pertama kali memopulerkan minuman kefir di Perumahan Kosagrha adalah pasutri Slamet Sastroamidjojo-Ny Soedjatni.
Pada awal 1985 itu Slamet sudah 17 tahun menderita penyakit lever. Kondisi kesehatannya tak kunjung membaik.

Lewat brosur minuman kefir yang diberikan anaknya yang kuliah di IPB Bogor, Slamet yang juga mantan Kasek SMA Kepanjen mencoba membuat kefir. Ternyata berhasil. Sampai kini, sudah 23 tahun mereka memproduksi kefir. Resep minuman ini sudah ditularkan kepada warga sekitar.
Tepat pada HUT Kota Surabaya ke 715 ini, pasangan Slamet-Ny Soedjatni mendapat penghargaan dari pemkot atas jasa kepeduliannya terhadap lansia.

Cara membuat kefir mudah. “Awalnya saya memperoleh satu sendok bibit fermentasi dari besan. Bibit itu dicampur satu sendok makan susu skim (susu rendah lemak) dan setengah liter air putih,” jelas Soedjatni, 73, pensiunan guru bahasa Inggris SMPN 1 Surabaya.

Selanjutnya, botol ditutup rapat dan didiamkan selama 20-24 jam. Gumpalan yang mengapung di atasnya itulah yang menjadi bibit untuk pembuatan berikutnya. Sedangkan cairan di bawahnya itu yang diminum.

Minuman ini biasa disebut jamu kefir, lantaran berkhasiat menyembuhkan sederet penyakit kaum lansia, termasuk radang lever, kuning, maag, diabetes, hipertensi, anemia, dan sejenisnya.

“Lever saya membaik, setelah minum susu kefir setiap hari satu liter. Selain itu, tentunya juga saya juga menjaga pola makan,” sambung Slamet, pria kelahiran Nganjuk 79 tahun lalu ini.
Minuman kefir, kata ayah enam anak ini, sejatinya memiliki nilai ekonomi lumayan. Per liter dijual seharga Rp 15.000. Tiap warga lansia bisa memproduksi 3-4 liter per hari.

Kalau banyak permintaan, produksi ditingkatkan menjadi 5-6 liter saja per hari. Terbatasnya jumlah warga lansia di Kosagrha membuat produk kefir hanya bisa dinikmati warga setempat.
Menurut Ny Soedjatni, siapa saja bisa membuat kefir asal ada bibit fermentasinya. “Tipsnya, saat membuat harus memakai peralatan nonlogam karena sifat susu ini kan asam. Botolnya bisa keramik atau plastik,” ungkap perempuan kelahiran Blitar ini.

Ny Soedjatni mengaku menganjurkan warga yang rutin mengonsumsi minuman kefir untuk memproduksi sendiri. Sebab, bahannya mudah didapat. Susu skim eceran yang dibeli di supermarket seharga Rp 60.000/kg bisa diolah menjadi 20 liter jamu kefir.

“Kalau disimpan dalam lemari es bisa tahan sampai 10 hari. Lebih lama dari itu rasanya semakin masam,” tambah warga Medayu Selatan IV/17 Kompleks Perumahan Kosagrha, Rungkut, ini.
Berdasarkan penelitian di IPB, minuman kefir mengandung tiga macam mikroorganisme, yakni bacillius caucasicus, schizomycetea, dan sacharimycetea carvisiae. Selain itu, juga kaya protein, karbohidrat, kalsium, magnesium, vitamin B1, B12, dan K.

Jamur kefir banyak mengandung asam amino bersifat mengendurkan saraf. Ukuran dadih kefir juga lebih kecil dibandingkan yang ada pada yogurt, itu sebabnya lebih mudah dicerna semua orang (segala usia) yang mengalami gangguan pencernaan./DWI PRAMESTI

SUMBER:

http://www.surya.co.id/web/index.php?option=com_content&task=view&id=47051&Itemid=78

Iklan