Laju Aliran Limbah pada Saringan Kerikil

Nur Hidayat, Sri Kumalaningsih, Noorhamdani dan Susinggih Wijana

Makalah pada Seminar Nasional APTA Yogyakarta 16 Desember 2010

Abstrak

Keberadaan limbah pangan yang kaya lipid makin lama makin meningkat dengan perubahan gaya hidup manusia. Peningkatan limbah lipid juga diikuti dengan meningkatnya jumlah deterjen yang digunakan. Oleh sebab itu perlu diketahui kemampuan penyaring kerikil dengan inokulum bakteri lipase Bacillus coagulans dalam mengatasi kedua limbah ini.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase penurunan lipid, deterjen (LAS), BOD dan COD pada limbah cair yang dilewatkan penyaring kerikil dengan inokulum Bacillus coagulans UB-9

Penelitian dilakukan dalam kolam saringan kerikil dengan dimensi 60X30X30 cm3 yang diisi penuh dengan kerikil diameter 0,5 – 2,0 cm. Laju aliran yang digunakan adalah 0.25 L/hari, 4,32 L/hari dan 8,39 L/hari. Pengamatan dilakukan terhadap kadar lipid, LAS. BOD dan COD seriap minggu sekali selama satu bulan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar lipid sebesar 2,0 – 6,3 mg/L dari semula 6,5 mg/L, deterjen (LAS)  0,1 – 1,5 mg/L dari semula 5,83 mg/L, BOD 71,5 – 244,3 mg/L, dari semula 2.151 mg/L, COD 211,7 – 752 mg/L dari semula 6.438,1 mg.L dan  pH 6,3 – 7,5 dari semula 6,6.

Berdasar hasil di atas dapat disimpulkan bahwa laju aliran 4,32 L/hr pada penyaring filter kapasitas limbah 20 L masih layak digunakan untuk menurunkan lipid dan deterjen namun belum baik untuk penurunan BOD dan COD.

Kata kunci: saringan kerikil, limbah cair, Bacillus coagulans

nur hidayat deklasrasi agroindustri tema teknologi

Iklan

Mikrobia Perombak Surfaktan

Nur Hidayat
Bakteri-bakteri Escherichia coli, Serratia marcescens, Proteus vulgaris dan Pseudomonas fluorescens mampu mendegradasi deterjen lauryl sulfate (Huddleston and Allerd, 1963 cit Goodnow and Harrison, 1972), sementara itu Goodnow and Harrison (1972) melaporkan hasil pengujiannya terhadap 45 strain bakteri terhadap tiga senyawa deterjen pada perbagai konsentrasi dan uji jumlah sel yang hidup untuk deteksi toksisitas. Pseudomonas sp dan Klebsiella sp juga berhasil diisolasi dari shampoo yang terkontaminasi ( Flawn, et al. 1973).
Mikrobia yang diketahui memiliki kemampuan baik dalam mendegradasi deterjen TAS, AES dan LAS adalah Acetobacter suboxydans. Sedang A. peroxydans mampu mendegradasi TAS dalam 72 jam. Beberapa spesies Azotobacter memiliki kemampuan degrdasi yang kuat Goodnow and Harrison, 1972).
Bakteri pengguna deterjen yang diisolasi dari kolam pengolah limbah adalah Vibrio, Klebsiella, Flavobacterium, Shigella, Proteus, Pseudomonas, Enterobacter, Bacillus, Escherichia and Citrobacter. Vibrio merupakan spesies yang dominan diikuti oleh Flavobacterium (Amund, et al. 1997). Isolat bakteri pendegradasi deterjen umumnya bakteri Gram negative kecuali Bacillus.
Bakteri – bakteri pendegradasi deterjen yang diisolasi dari sungai diThailand adalah Aeromonas, Enterobacter, Klebsiella, Micrococcus, Pasteurella, Pseudomonas, Serratia, dan Staphylococcus (Visoottiviseth, et al. 1988).
Bacillus cereus dapat tumbuh baik pada kolam yang terkontaminasi deterjen, Bacillus dapat menggunakan SDS (sodium dodecyl sulphate) yang merupakan deterjen yang banyak digunakan. Strain ini menunjukkan kemampuan yang cukup besar (43%) pada medium mineral yang diperkaya dengan SDS 10 mg/ml. Pertumbuhan akan terpacu jika dalam medium mengandung pula glukosa. Namun demikian, pertumbuhan menunjukkan fase lag yang cukup panjang jika konsentrasi SDS lebih dari 5 mg/ml (Singh, et.al. 1998).