Biopestisida

Kapang entomopatogenik merupakan pathogen paling umum terkait dengan tungau laba-laba dan telah teruji secara laboratories. Oleh sebab itu penggunaan biopestisida ini guna melawan Tetranychus urticae menggantikan pestisida sibtetik acaricida perlu dikembangkan dengan lebih baik. Pada percobaan rumah kaca maka aplikasi penyemprotan dengan Beuaveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Leuxanicilium lecanii telah mampu menurunkan jumlah T. articeae  pada tanaman tomat. Dikethui pula bahwa Naturalis-L (B. bassiana) juga kompatibel denganpredator tungau seperti Phytoseiulus persimilis. Kerentanan inang terhadap kapang pathogen ini dipengaruhi oleh factor-faktor lingkungan. Suhu merupakan salah satu factor yang mempengaruhi virulensi isolate kapang.

Guna membuat biopestisida maka kapang ini harus ditumbuhkan pada medium Sabouraud dextrose agar (SDA) dalam cawan petri dengan waktu 3 minggu pada suhu 26 + 20C. Konidia di permukaan dipanen dengan cara mengikisnya kemudian disuspensikan dalam 20 mL aquades steril yang mengandung Triton X-100. Suspensi konidia  kemudian divortex selama 5 menit untuk menghasilkan suspense konidia yang homogeny. Sebelum digunakan dilakukan pengujian viabilitasnya dengan cara suspensi konidia (3 X 106 konidia/mL) ditumbuhkan pada gelas obyek yang mengandung SDA secara spread-plating, kemudian ditutup dengan gelas penutup dan diinkubasi pada 26 + 20C selama 24 jam. Persentase perkecambahan dengan menghitung 100 spora per gelas obyek.

Hasil pengujian viabilitas menunjukkan bahwa kemampuan spora berkecambah sebesar 81 – 96%. Uji patogenisitas menunjukkan bahwa pada suhu 260C kapang ini bersifat pathogen apda T. urticae dewasa dan menyebabkan kematian sebesar 95 – 99 %. Tingkat virulensi juga meningkat dengan meningkatnya suhu.

sumber:

Bugeme, D,M., M. Knapp., H.I. Boga.,  A.K. Wanjoya and N.K. Maniania. 2009.  Influence of Temperature on Virulence of Fungal Isolates of Metarhizium anisopliae and Beauveria bassiana to the Two-Spotted Spider Mite Tetranychus urticae Mycopathologia 167:221–227

Iklan

Buletin Mikrobiologi Edisi Maret 2011

isi buletin edisi kali ini adalah:

1. Fermentasi jagung sebagai pangan fungsional

2. teknik isolasi jamur dari produk komersial

buletin dapat di download di:

http://permi.or.id atau di

http://www.ziddu.com/download/14508070/permi04032011.pdf.html

selamat membaca, kami menunggu artikel populer tentang mikrobiologi dari para pembaca blog ini untuk kami muat di buletin

salam

nur hidayat

Hama dan penyakit pada jamur tiram

Budidaya jamur tiram dapat dipandang dari dua sisi yaitu seni dan pengetahuan. Dari sisi seni maka kita harus merawatnya sedapat kita lakukan, sebagaimana seorang seniman merawat lukisannya. Jika sebagai pengetahuan, kita harus mempelajari bagaimana merawatnya, agar dihasilkan produk yang tinggi dan baik. Dua tujuan ini harus dipahami oleh seorang yang melakukan budidaya jamur tiram.

Hama dan penyakit sering terjadi akibat kecerobohan kita sendiri. Seorang pembudidaya harus dapat menjaga dari segala kemungkinan yang terjadi. Fungsida, insektidida dan bahan kimia lainnya dapat membantu,tetapi pencegahan tanpa bahan kimia lebih baik untuk dilakukan.

Pada tulisan kali ini yang akan kita bicarakan barulah jenis-jenis hama dan penyakit pada budidaya jamur tiram sedang cara pencegahan belum dibahas. Hal ini untuk menjawab pertanyaan pada blog tentang hama dan penyakit yang sering ada pada jamur tiram.

Hama

a. a. Megaselia: larvanya akan memakan jamur

<!b. Lycoriella: problem yang paling sering terjadi. Larva benar-benar merusak. Genus ini mudah diidentifikasi dari kepalanya yang hitam pada larva dan sayap. Umumnya muncul dari udara atau tanaman sekitar. Jamur liar merupakan makanan alami mereka

c.  c. Mycophila: larva berwarna oranye

d. d. Heteropeza: serangga sangat kecil

e. e. Nematoda: cacing berukuran sangat kecil dapat memakan jamur

f. Tungau: memakan jamur secara langsung dan menyebabkankerusakan jamur

g. Hama lain yang perlu diperhatikan adalah siput, cacing, tikus

PePenyakit

Tra. Trichoderma: Jamur berwarna hijau ini umum menyerang jamur tiram. Umumnya berasal dari udara atau dari pekerja. Dapat terjadai pada substrat yang mengalami pasteurisasi berlebih (maksimum 600C).

b. b. Verticillium: Gelembung-gelembung kering menyebabkan distorsi dan bercak.

c. c. Pseudomonas tolaasii

d. d. Virus: menyebabkan perubahan warna jamur

e. e. Jamur lendir: menjadikan penampakan jamur tidak menarik

Kelainan karena kondisi lingkungan

a. Batang memanjang: merupakan penyakit fisiologi yang disebabkan oleh kelebihan karbon dioksida, ventilasi yang kurang, dapat juga disebabkan kurangnya cahaya biru

Perhatikan pula jangan sampai kelebihan air karena akan mengganggu udara mencapai substrat. Miselium tidak dapat menggunakan substrat yang terlalu basah.

dalam artikel ini tidak ada foto, untuk lengkapnya dapat di download di artikel berikut:

Buku jamur Tiram