Bordetella pertussis

Bordetella pertussis is a Gram-negative, aerobic coccobacillus of the genus Bordetella, and the causative agent of pertussis or whooping cough. Unlike B. bronchiseptica, B. pertussis is non-motile. There does not appear to be a zoonotic reservoir for B. pertussis—humans are its only host. The bacterium is spread by coughing and by nasal dripping. The incubation period is 7–14 days.

Pertussis (or whooping cough) is an infection of the respiratory system and characterized by a “whooping” sound when the person breathes in. In the US it killed 5,000 to 10,000 people per year before a vaccine was available. Worldwide in 2000, according to the WHO, around 39 million people were infected annually and about 297,000 died. Bordetella pertussis infects its host by colonizing lung epithelial cells. The bacterium contains a surface protein, filamentous hemagglutinin, which binds to sulfatides that are found on cilia of epithelial cells. Once anchored, the bacterium produces tracheal cytotoxin, which stops the cilia from beating. This prevents the cilia from clearing debris from the lungs, so the body responds by sending the host into a coughing fit. These coughs expel some bacteria into the air, which are free to infect other hosts. Bordetella pertussis has the ability to inhibit the function of the host’s immune system. Two toxins, known as the pertussis toxin (or PTx) and adenylate cyclase (CyaA), are responsible for this inhibition. CyaA converts ATP to cyclic AMP, and PTx inhibits an intracellular protein that regulates this process. The end result is that phagocytes convert too much ATP to cyclic AMP, which can cause disturbances in cellular signaling mechanisms, and prevent phagocytes from correctly responding to an infection.

Laju Aliran Limbah pada Saringan Kerikil

Nur Hidayat, Sri Kumalaningsih, Noorhamdani dan Susinggih Wijana

Makalah pada Seminar Nasional APTA Yogyakarta 16 Desember 2010

Abstrak

Keberadaan limbah pangan yang kaya lipid makin lama makin meningkat dengan perubahan gaya hidup manusia. Peningkatan limbah lipid juga diikuti dengan meningkatnya jumlah deterjen yang digunakan. Oleh sebab itu perlu diketahui kemampuan penyaring kerikil dengan inokulum bakteri lipase Bacillus coagulans dalam mengatasi kedua limbah ini.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase penurunan lipid, deterjen (LAS), BOD dan COD pada limbah cair yang dilewatkan penyaring kerikil dengan inokulum Bacillus coagulans UB-9

Penelitian dilakukan dalam kolam saringan kerikil dengan dimensi 60X30X30 cm3 yang diisi penuh dengan kerikil diameter 0,5 – 2,0 cm. Laju aliran yang digunakan adalah 0.25 L/hari, 4,32 L/hari dan 8,39 L/hari. Pengamatan dilakukan terhadap kadar lipid, LAS. BOD dan COD seriap minggu sekali selama satu bulan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar lipid sebesar 2,0 – 6,3 mg/L dari semula 6,5 mg/L, deterjen (LAS)  0,1 – 1,5 mg/L dari semula 5,83 mg/L, BOD 71,5 – 244,3 mg/L, dari semula 2.151 mg/L, COD 211,7 – 752 mg/L dari semula 6.438,1 mg.L dan  pH 6,3 – 7,5 dari semula 6,6.

Berdasar hasil di atas dapat disimpulkan bahwa laju aliran 4,32 L/hr pada penyaring filter kapasitas limbah 20 L masih layak digunakan untuk menurunkan lipid dan deterjen namun belum baik untuk penurunan BOD dan COD.

Kata kunci: saringan kerikil, limbah cair, Bacillus coagulans

nur hidayat deklasrasi agroindustri tema teknologi

Bacillus thuringiensis (1)

Nur Hidayat
Bacillus thuringiensis telah diisolasi pada awal abad ke-20 di Jepang dari penyakit ulat sutra dan di Jerman dari penyakit “mealmoth”. Bakteri ini bermanfaat sebagai agen pengontrol bagi pertumbuhan Lepidoptera yang kemudian diketahui lebih lanjut setelahnya, dan baru dikembangkan secara komersial 40 tahun kemudian. Bacillus juga merupakan sumber antibiotik, penghasil flavor seperti nukleosida purin, surfaktan dan beberapa produk lainnya (Rehm, et. al, 1999).
Bacillus thuringiensis termasuk ke dalam grup Bacillus substilis yang memiliki karakteristik diantaranya: memproduksi asam dari berbagai jenis gula bahkan glukosa, organisme fakultatif an aerob, dapat tumbuh dengan cukup baik jika terdapat nitrat, sporanya berbentuk elips dan tidak dapat memperbesar diri, serta dapat menghasilkan enzim ekstraseluler seperti amylase, β-glukonase, dan protease (Rehm, et. al, 1999).
Bacillus thuringiensis tidak hanya digunakan sebagai pengontrol Lepidoptera, tapi juga dapat digunakan untuk membasmi larva koleoptera atau diptera (lalat, nyamuk). Produk ini digunakan pada tanaman atau lingkungan lainnya dimana terdapat larva insekta. Beberapa gen racunnya juga telah dikulturkan ke dalam beberapa tanaman pangan (Deacon, 2000).
Sel vegetatif Bacillus thuringiensis memiliki lebar 1 mikron dan panjang 5 mikron, dan bergerak. Bacillus thuringiensis digunakan sebagai pengendali hama karena sifatnya yang spesifik terhadap hama dan tidak berbahaya bagi manusia, ikan, burung, anijng, babi, tikus, dll atau hama-hama tanaman lainnya, juga tidak bersifat karsinogenik. Kemampuannya sebagai pengendali hama disebabkan oleh kristal protein yang diproduksinya. Produk Bt komersial mengandung spora Bt sebesar 2.5 x 1011 spora / gram. Produk Bt berkurang efektifvitasnya jika disimpan lebih dari enam bulan (Annonymous, 2005a).