KANDHA RAHARJA : ANTISIPASI KELANGKAAN BAHAN ; Media Tumbuh Jamur Tak Cuma ‘Grajen’

KR 17/07/2009 08:22:35

Saat sekarang banyak petani jamur yang pusing dengan biaya budidaya yang membengkak. Khususnya menghadapi harga serbuk limbah kayu atau grajen yang cenderung naik dan sulit diperoleh. Padahal mereka biasa memakainya untuk media tumbuh jamur dalam kubung.

HAL ini setidaknya dirasakan oleh para petani jamur di Dusun Gambretan, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan. “Lima bulan, kami petani jamur membeli satu truk grajen seharga Rp 100 ribu. Sekarang Rp 350 ribu. Jika ditambah ongkos kirim dari Magelang ke sini sebesar Rp 350 ribu,” keluh Wagiman, petani sekaligus pelopor budidaya jamur di dusun itu.
Sebab itu untuk satu kali pembelian grajen, menurutnya kini petani harus mengeluarkan biaya Rp 650 ribu. Selain media tumbuh jamur, kayu obong sebagai bahan bakar pengovenan grajen pun ikut naik dari Rp 350 ribu menjadi Rp 500 ribu.
Ongkos ini jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan saat menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, sebelum ada program konversi minyak ke gas. “Semenjak minyak tanah mahal, petani jamur beralih mengunakan kayu untuk pengovenan,” tambah Wagiman lagi.
Ketergantungan petani terhadap grajen sebagai media tumbuh jamur, menurut Ratijo, pembudidaya jamur berpengalaman dari CV Volva Indonesia dan sekaligus pengelola rumah makan Jejamuran di Dusun Niron, Desa Pandowoharjo, Sleman, sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebab banyak alternatif pengganti grajen yang tersedia di alam.
“Syarat media tumbuh jamur yang baik itu kering, sehingga sel-selnya mati, serta memiliki kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa yang dibutuhkan oleh jamur sebagai makanannya. Media semacam ini tak cuma grajen saja,” tandas Ratijo.
Dia lantas menyebutkan beberapa bahan seperti jerami, ampas tebu, batang dan tongkol jagung, batang kedele dan onggok aren dapat dijadikan alternatif media tumbuh jamur, bila harga grajen sedang mahal. “Bahkan dapat dibilang bahan-bahan ini kandungan makanan untuk jamur lebih banyak, lebih baik dan murah. Apalagi musim kemarau seperti ini, dalam 2-3 hari mudah dikeringkan dengan cara dijemur,” sebutnya.
Bicara soal jerami, Ratijo menyebut saat ini banyak sawah yang panen, sehingga kadang-kadang tidak usah membeli. Hanya masalahnya, kadang petani malas untuk mengangkut dan menjadikannya sebagai media tumbuh jamur.
“Seharusnya pada musim kemarau, hasil budidaya jamur akan lebih baik dibanding pada musim hujan. Baik dari kuantitas maupun kualitasnya, media tumbuh alternatifnya juga banyak. Hal yang perlu diperhatikan hanyalah masalah kelembaban, yang seringkali di bawah 50 persen. Sehingga suhu dalam kubung perlu dijaga, agar kelembabannya ditingkatkan 80-90 persen,” lanjutnya. (Hari S)-c

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s