Berkerabat dalam Tempe

Kompas Minggu, 27 januari 2008 | 03:39 WIB. KOMPASFrans Sartono & Madina Nusrat

Tempe bukan sekadar lauk. Di belakang nikmatnya tempe, terentang kultur kekerabatan, etos kerja keras, dan nasib rakyat. Mari menyusuri jejak tempe di tanah Banyumas dengan mendoan dan tempe keripiknya.

Tempe mendoan panas, teh hangat, dan sore yang teduh: itulah kenikmatan pada sebuah sore di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (22/1) lalu. Saat itu Kompas bertandang ke rumah Ahmad Tohari, wong Banyumas yang menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Tuan rumah menghidangkan tempe mendoan yang baru diangkat dari penggorengan. Tempe kedelai itu dilumuri campuran tepung terigu dan tepung beras, plus irisan daun bawang. Tempe digoreng setengah matang alias mendo. Paduan antara rasa kedelai setengah matang plus bumbu-bumbu tadi memberi sensasi rasa gurih-gurih empuk hangat. Dicolok dengan pedasnya cabai, maka sempurnalah kenikmatan sang tempe.

”Mendoan itu seperti jazz. Serba tidak tepat, tapi enak,” kata Ahmad Tohari yang hampir setiap hari menyantap tempe mendoan.

”Adalah suatu kehormatan bila ada tetangga datang ke rumah kita, lalu disuguh mendoan,” tutur Tohari menggambarkan posisi sosiokultural tempe dalam masyarakat Banyumasan.

Tempe menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas yang menurut Ahmad Tohari berorientasi pada budaya egaliter. Tempe disuguhkan hangat-hangat dan disantap bareng-bareng sambil ngobrol sebagai penanda keakraban dan penghormatan.

Makanan rakyat

Tempe menjadi makanan nikmat rakyat dan penghidupan rakyat. Menyusuri malam di Purwokerto, kita akan mendapati tempe mendoan yang disuguhkan di tempat makan lesehan kaki lima, di tempat pelesiran Baturaden yang sejuk, sampai di kafe. Cheers Cafe di Jalan Angka menyuguhkan mendoan yang katanya bisa menjadi kawan minum vodka.

”Mendoan sudah menjadi menu utama kudapan di kafe kami. Pengunjung luar kota sudah tahu itu,” kata supervisor Cheers Cafe, Agung Nugroho.

Kita sambangi Mbak Marni yang membuka warung lesehan di emperan toko di Jalan Jenderal Sudirman, Purwokerto. Orang-orang melahap tempe mendoan sambil mengobrol dengan kawan kopi, teh, atau jahe susu.

”Enaknya memang dimakan waktu panas Mas. Kalau dingin orang enggak mau makan,” kata Marni yang buka sejak jam delapan hingga tengah malam.

Dalam semalam, Marni menyuguhkan sekitar seratus tempe untuk pelanggannya. Satu tempe ia jual dengan harga Rp 700. Dulu, sebelum harga kedelai naik ”pitam”, ia memasang harga Rp 600. Kini penghasilannya menurun. Tapi, ia tak bisa serta-merta menaikkan harga semau-maunya.

”Minyak tanah sulit didapat dan harus antre. Tempe, terigu, minyak goreng, semua naik. Tapi, saya tak bisa menaikkan harga. Untungnya, pembeli menyadari kalau harga-harga naik, jadi mereka tetep beli,” kata Marni yang semalam bisa membawa hasil kotor sekitar Rp 400.000.

Di kalangan konsumen dan penjual tempe terdapat semacam tepa selira, rasa senasib sebagai rakyat yang sama-sama didera harga serba tinggi. Perajin tempe dalam posisi dilematis. Menjual dengan harga tinggi tidak laku, sedangkan memasang harga rendah mereka hanya mendapat keuntungan pas-pasan.

”Dulu, setiap bungkus itu paling hanya untung Rp 30. Tapi sekarang, sejak harga kedelai naik, keuntungan makin tipis lagi, hanya Rp 20 per bungkus. Ora cucuk—tak sepadan—dengan tenaga. Tapi untuk dinaikkan harganya juga sulit, ora payu,” kata Hisam, perajin dan penjual tempe di Pasar Wage.

Makhtub (62), pemilik warung spesial penyaji mendoan di Baturaden, memilih strategi buka tutup. Ia hanya buka warung jika pengunjung tempat wisata ramai. Ia tahu harga kedelai sudah tak realistis, tapi ia tidak tega untuk menaikkan harga mendoan.

”Saya menunggu sampai orang benar-benar menyadari bahwa harga tempe sudah naik tinggi sekali,” kata Makhtub yang membuka warung mendoan sejak tahun 1979.

Dinasti tempe

Ketidaktegaan menjadi salah satu indikator adanya kedekatan hubungan antara perajin dan konsumen. Tempe telah membentuk jaringan antara penikmat perajin, penjual kedelai, sampai petani kedelai. Di Banyumas, jejaring tempe itu kait-mengait dari generasi ke generasi, hingga terbentuk semacam ”dinasti”.

Coba masuk ke Pasar Wage di Purwokerto, tempat Marni kulakan tempe. Di pasar ini ada puluhan perajin tempe yang sebagian besar berasal dari Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Banyumas. Di desa berpenduduk sekitar 8.000 warga itu terdapat sekitar 600 perajin tempe.

Di antara mereka adalah Tanto (38) yang merupakan generasi ke tiga perajin tempe asal Desa Pliken Kulon. Orangtua dan kakek Tanto adalah perajin tempe. Kelima saudara Tanto seluruhnya menjadi bakul tempe. Kini anak Tanto yang berumur 14 tahun ikut berjualan tempe.

Tengok pula kawasan Sawangan atau di sepanjang Jalan Letjen Sutoyo, Purwokerto, yang merupakan pusat oleh-oleh dengan andalan tempe mendoan dan keripik tempe. Salah satu pelaku usaha di sana adalah Lisa (50) yang membuka toko tempe keripik dan mendoan bernama Sawangan 61. Lisa merupakan generasi ketiga penjual keripik tempe dan mendoan. Usaha tempe dirintis kakek Lisa, yaitu Lie Tjwan Seng pada tahun 1948. Usaha dilanjutkan anaknya, Lie Tiang Hien, dan kemudian diteruskan lagi oleh Lisa.

Anak cucu Lie Tjeng Swan selama 60 tahun berlangganan tempe pada anak cucu keluarga Sarengat, perajin tempe yang turun-temurun hingga generasi ke empat dari Desa Pliken. Bagi mereka, hubungan jual beli itu bukan sekadar urusan dagang, tapi telah menjadi semacam kekerabatan antarsesama orang senasib yang berpenghidupan dari tempe.

One thought on “Berkerabat dalam Tempe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s