Inokulum Tempe

September 5, 2009

Inokulum tempe disebut juga dengan starter tempe dan banyak pula yang menyebut dengan nama ragi tempe. Starter atau inokulum tempe adalah bahan yang mengandung biakan jamur tempe, digunakan sebagai agensia pengubah kedelai rebus menjadi tempe akibat tumbuhnya jamur tempe pada kedelai dan melakukan kegiatan fermentasi yang menyebabkan kedelai berubah sifat karakteristiknya menjadi tempe (Kasmidjo, 1990). Menurut Sarwono (2004), inokulum tempe atau laru adalah kumpulan spora kapang tempe yang digunakan sebagai bahan pembibitan dalam pembuatan tempe. Laru mengandung spora-spora kapang yang pada pertumbuhannnya menghasilkan enzim yang dapat mengurai substrat yang lebih kecil, lebih mudah larut serta menghasilkan flavour dan aroma yang khas. Laru tempe mengandung paling sedikit 3 jenis spesies kapang, yaitu kapang Rhizopus oligosporus, R. oryzae, dan R. stolonifer. Menurut Koswara (1995), jenis kapang yang berperan utama dalam pembuatan tempe adalah R. oligosporus.

Menurut Hermana dan Mien (1996), penambahan atau pengurangan jumlah inokulum pada kondisi fermentasi (media dan suhu) yang sama akan mempersingkat atau memperpanjang masa fermentasi. Pada proses fermentasi, kapang membutuhkan oksigen yang cukup untuk memacu pertumbuhannya, apabila kadar oksigen kurang maka pertumbuhan kapang pada substrat menjadi lambat (Sarwono, 2004).

Inokulum tempe dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan atas profil mikroorganisme (Kasmidjo, 1990), yaitu:

  1. Starter yang mengandung lebih dari satu jenis atau lebih jamur tempe dan yang dapat dipastikan juga banyak mengandung bakteri. Starter tradisional (usar) termasuk dalam golongan ini.
  2. Starter murni, yaitu starter yang dibuat dengan menumbuhkan suatu jenis jamur tempe pada substrat yang dimasak. Starter yang dibuat dengan cara ini tentu masih terkontaminasi oleh bakteri, karena perlakuan pemanasan tanpa tekanan terhadap substrat (dimasak). Contoh starter murni adalah starter bubuk buatan LIPI.
  3. Starter kultur murni yang dibuat dengan membiakkan kultur murni R. oligosporus (atau jamur tempe yang baik lainnya) pada substrat yang dihasilkan secara aseptis. Contoh starter jenis ini adalah starter yang disiapkan oleh laboratorium untuk keperluan penelitian.

Menurut Kasmidjo (1990), inokulum tempe dapat diperoleh dengan berbagai cara antara lain:

  1. Berupa tempe dari batch sebelumnya yang telah mengalami sporulasi.
  2. Berupa tempe segar yang dikeringkan di bawah sinar matahari.
  3. Sebagai biakan murni R. oligosporus yang disiapkan secara aseptis oleh lembaga riset atau lembaga pendidikan.
  4. Usar, merupakan inokulum tempe yang dibuat dari kedelai yang telah diberi ragi dan diletakkan diantara dua lapis daun waru atau daun jati.

Beberapa persyaratan atas kualitas jamur tempe yang baik untuk digunakan sebagai starter tempe antara lain:

  1. Memiliki persentase perkecambahan spora yang tinggi segera setelah diinokulasikan dan mampu memproduksi spora dalam jumlah banyak.
  2. Pertumbuhan miselia setelah inokulasi harus kuat, lebat, berwarna putih bersih, memiliki aroma spesifik tempe yang enak, dan tidak mengalami sporulasi terlalu awal (Kasmidjo, 1990)

Menurut Rahman (1992), untuk menghasilkan tempe yang baik, jumlah sel hidup yang terdapat dalam inokulum adalah berkisar antara 106-109 koloni/gram.

Menurut Suprapti (2003), ragi tempe yang akan digunakan harus benar-benar kering sehingga siap berperan sebagai bibit kapang yang baru. Ragi yang belum benar-benar kering apabila disimpan akan menggumpal dan ditumbuhi spora jamur perusak. Ragi tempe harus dihasilkan dengan tingkat kekeringan yang tinggi. Penyimpanan ragi harus dilakukan dalam wadah yang kedap air dan udara agar tidak tercemar. Menurut Shurtleff dan Aoyagi (1979), penyimpanan inokulum harus dilakukan pada temperatur dan kelembaban yang rendah agar potensi tumbuh ragi tidak menurun. Penyimpanan inokulum tempe dapat dilakukan pada suhu 5-100C dalam plastik tertutup. Inokulum tempe yang disimpan pada suhu kamar dapat bertahan selama 12 – 14 minggu dan setelah itu jumlah spora dalam inokulum tempe akan menurun drastis.


Regulatory Phenotyping Reveals Important Diversity within the Species Lactococcus lactis

September 3, 2009

Applied and Environmental Microbiology, September 2009, p. 5687-5694, Vol. 75, No. 17

Herwig Bachmann,  Marjo J. C. Starrenburg,  Annereinou Dijkstra, Douwe Molenaar,  Michiel Kleerebezem,  Jan L. W. Rademaker, and Johan E. T. van Hylckama Vlieg

The diversity in regulatory phenotypes among a collection of 84 Lactococcus lactis strains isolated from dairy and nondairy origin was explored. The specific activities of five enzymes were assessed in cell extracts of all strains grown in two different media, a nutritionally rich broth and a relatively poor chemically defined medium. The five investigated enzymes, branched chain aminotransferase (BcaT), aminopeptidase N (PepN), X-prolyl dipeptidyl peptidase (PepX), alpha-hydroxyisocaproic acid dehydrogenase (HicDH), and esterase, are involved in nitrogen and fatty acid metabolism and catalyze key steps in the production of important dairy flavor compounds. The investigated cultures comprise 75 L. lactis subsp. lactis isolates (including 7 L. lactis subsp. lactis biovar diacetylactis isolates) and 9 L. lactis subsp. cremoris isolates. All L. lactis subsp. cremoris and 22 L. lactis subsp. lactis (including 6 L. lactis subsp. lactis biovar diacetylactis) cultures originated from a dairy environment. All other cultures originated from (fermented) plant materials and were isolated at different geographic locations. Correlation analysis of specific enzyme activities revealed significantly different regulatory phenotypes for dairy and nondairy isolates. The enzyme activities in the two investigated media were in general poorly correlated and revealed a high degree of regulatory diversity within this collection of closely related strains. To the best of our knowledge, these results represent the most extensive diversity analysis of regulatory phenotypes within a single bacterial species to date. The presented findings underline the importance of the availability of screening procedures for, e.g., industrially relevant enzyme activities in models closely mimicking application conditions. Moreover, they corroborate the notion that regulatory changes are important drivers of evolution.


Global phenotypic characterization of bacteria

Agustus 26, 2009

Barry R. Bochner Biolog Inc., Hayward, CA, USA, FEMS Microbiol Rev 33 (2009) 191–205

Abstract
The measure of the quality of a systems biology model is how well it can reproduce and predict the behaviors of a biological system such as a microbial cell. In recent years, these models have been built up in layers, and each layer has been growing in sophistication and accuracy in parallel with a global data set to challenge and validate the models in predicting the content or activities of genes (genomics), proteins (proteomics), metabolites (metabolomics), and ultimately cell phenotypes (phenomics). This review focuses on the latter, the phenotypes of microbial cells. The development of Phenotype MicroArrays, which attempt to give a global view of cellular phenotypes, is described. In addition to their use in fleshing out and validating systems biology models, there are many other uses of this global
phenotyping technology in basic and applied microbiology research, which are also described.

do you want fullpaper?


Undangan Pertemuan PERMI Cabang Malang

Agustus 4, 2009

Dengan hormat

Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara untuk hadir pada pertemuan anggota PERMI (Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia) Cabang Malang pada:

Hari / Tanggal : Jum’at 7 Agustus 2009

Waktu: 13.30 wib

Tempat: Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Univesitas Brawijaya

Acara:

1. Pembicaraan rencana untuk PIT PERMI di Surabaya

2. pembagian Jurnal Mikrobiologi (ada dua edisi yang belum dibagi)

3. membayar iuran tahunan (Rp 50.000)

bagi yang belum jadi anggota mari bergabung. murah lho 50 rb dapat jurnal 3 kali padahal harga jurnalnya 60rb.

kami tunggu kehadirannya.

salam

an. Pengurus

Sekretaris

Nur Hidayat


Trichoderma penghasil enzim amylase

Juli 29, 2009

Kapang – kapang filamentous terdiri dari kelompok mikroorganisme heterogenous yang mampu menggunakan berbagai sumber karbon dan nitrogen untuk pertumbuhannya melalui berbagai jalur metabolism dengan menghasilkan amylase. Anggota genus Aspergillus dan Rhizopus sering digunakan untuk mendegradasi pati. Struktur polikrostalin, dari granula pati adalah tidak larut dalam air dingin oleh karena untuk memperbaiki suseptabilitas pati terhadap kerja enzim terutama setelah gelatinisasi oleh air panas perlu dicari mikroorganisme yang mampu tumbuh pada pati yang tidak mengalami gelatinisasi. Jika ini dapat dilakukan maka akan dapat mengurangi biaya gelatinisasi. Amilase merupakan enzim yang banyak digunakan di berbagai industri terutama industri pangan, tekstil, minuman, kertas, lem, turunan gula, bioetanol dan sebagainya. Amilase digunakan untuk menghidrolisis bahan baku dalam agroindustri. Produksi enzim amilolitik ergantung dari spesies mikrobia, komposisi medium, metode kultivasi dan sumber nitrogen. Trichoderma selain sebagai penghasil selulase yang baik juga dikenalsebagai mikroorganisme yang mampu menggunakan pati tanpa perlakuan gelatinisasi. Oleh sebab itu perlu diteliti penggunaan Trichoderma sebagai sumber amylase termasuk keamananannya bagi pangan. Tricoderma umumnya dipelihara pada medium yang mengandung (dalam 1,0 liter aquades): glukosa 10 g, peptone 5,0 g, meat extract 3,0 g dan agar-agar 20 g. Penggunaan sumber nitrogen dalam medium pertumbuhan menunjukkan bahwa campuran urea dan ammonium sulfat mampu mendukung produksi amylase dan glukoamilase dari Trichoderma sp menggunakan sumber karbon sebagai pati terlarut. Mau lanjutkan penelitian ini? Sumber: R. A. Pacheco Chávez, L. C. Tavares, A. C. S. C. Teixeira, J. C. M. Carvalho, A. Converti, and S. Sato. Influence of the Nitrogen Source on the Productions of a-Amylase and Glucoamylase by a New Trichoderma sp. from Soluble Starch. Chem. Biochem. Eng. Q. 18 (4) 403–407 (2004)


KANDHA RAHARJA : ANTISIPASI KELANGKAAN BAHAN ; Media Tumbuh Jamur Tak Cuma ‘Grajen’

Juli 19, 2009

KR 17/07/2009 08:22:35

Saat sekarang banyak petani jamur yang pusing dengan biaya budidaya yang membengkak. Khususnya menghadapi harga serbuk limbah kayu atau grajen yang cenderung naik dan sulit diperoleh. Padahal mereka biasa memakainya untuk media tumbuh jamur dalam kubung.

HAL ini setidaknya dirasakan oleh para petani jamur di Dusun Gambretan, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan. “Lima bulan, kami petani jamur membeli satu truk grajen seharga Rp 100 ribu. Sekarang Rp 350 ribu. Jika ditambah ongkos kirim dari Magelang ke sini sebesar Rp 350 ribu,” keluh Wagiman, petani sekaligus pelopor budidaya jamur di dusun itu.
Sebab itu untuk satu kali pembelian grajen, menurutnya kini petani harus mengeluarkan biaya Rp 650 ribu. Selain media tumbuh jamur, kayu obong sebagai bahan bakar pengovenan grajen pun ikut naik dari Rp 350 ribu menjadi Rp 500 ribu.
Ongkos ini jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan saat menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, sebelum ada program konversi minyak ke gas. “Semenjak minyak tanah mahal, petani jamur beralih mengunakan kayu untuk pengovenan,” tambah Wagiman lagi.
Ketergantungan petani terhadap grajen sebagai media tumbuh jamur, menurut Ratijo, pembudidaya jamur berpengalaman dari CV Volva Indonesia dan sekaligus pengelola rumah makan Jejamuran di Dusun Niron, Desa Pandowoharjo, Sleman, sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebab banyak alternatif pengganti grajen yang tersedia di alam.
“Syarat media tumbuh jamur yang baik itu kering, sehingga sel-selnya mati, serta memiliki kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa yang dibutuhkan oleh jamur sebagai makanannya. Media semacam ini tak cuma grajen saja,” tandas Ratijo.
Dia lantas menyebutkan beberapa bahan seperti jerami, ampas tebu, batang dan tongkol jagung, batang kedele dan onggok aren dapat dijadikan alternatif media tumbuh jamur, bila harga grajen sedang mahal. “Bahkan dapat dibilang bahan-bahan ini kandungan makanan untuk jamur lebih banyak, lebih baik dan murah. Apalagi musim kemarau seperti ini, dalam 2-3 hari mudah dikeringkan dengan cara dijemur,” sebutnya.
Bicara soal jerami, Ratijo menyebut saat ini banyak sawah yang panen, sehingga kadang-kadang tidak usah membeli. Hanya masalahnya, kadang petani malas untuk mengangkut dan menjadikannya sebagai media tumbuh jamur.
“Seharusnya pada musim kemarau, hasil budidaya jamur akan lebih baik dibanding pada musim hujan. Baik dari kuantitas maupun kualitasnya, media tumbuh alternatifnya juga banyak. Hal yang perlu diperhatikan hanyalah masalah kelembaban, yang seringkali di bawah 50 persen. Sehingga suhu dalam kubung perlu dijaga, agar kelembabannya ditingkatkan 80-90 persen,” lanjutnya. (Hari S)-c


E. coli remains a mystery as cookie dough production restarts

Juli 14, 2009

By Caroline Scott-Thomas, 10-Jul-2009

Related topics: Processing & Packaging

Nestle USA has said that it is gradually restarting production of its Toll House chocolate chip cookie dough after FDA inspections failed to find E. coli at its Danville, Virginia plant.

Nestle recalled the cookie dough on June 19 after the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) connected it with an E. coli outbreak that has sickened at least 72 people across 30 states. Tests later found E. coli in a sample of refrigerated cookie dough produced at the plant, but it has now emerged that the E. coli strain found in the sample does not match the illness strain. The FDA has concluded that the dough contained more than one strain of E. coli but has remained baffled as to the source of the bacterium, which is found in cattle intestines.

None of the main ingredients in the dough is known to host E. coli.

Ongoing mystery

The FDA’s assistant commissioner for food safety David Acheson said that the agency is unlikely to discover the source despite conducting extensive tests at the Nestle plant, as well as probing its ingredient suppliers.

“This will be one of those situations where we won’t definitely know what went wrong,” said Acheson.

However, he suggested that flour was the most plausible source of E. coli as it is a raw agricultural ingredient that could have been contaminated by animals when it was still in the field. This led health officials to inspect Nestle’s flour supplier after tests at the Danville plant did not find the bacterium.

Nestle said that all of its machinery was dismantled and tested over the course of a week-long inspection which uncovered two minor food safety issues involving condensate on an implement used for scraping dough from a mixer, and a valve which required a smoother surface for ease of cleaning.

“Neither of these observations is believed to have any relationship to the presence of E. coli O157:H7 found in the retained production sample,” Nestle said. “…Both of the observations have been corrected.”

The company said that it has also discarded and replaced all of the ingredients that had been stockpiled since the recall was announced and added that all its newly produced cookie dough products will be marked as coming from a ‘new batch’.

General Manager of Nestle’s baking division Paul Bakus said: “We are very concerned about those who have become ill from E. coli O157:H7 and deeply regret that this has occurred.”


Produksi Hidrogen sebagai Energi

Juli 10, 2009

Hidrogen kini diusulkan sebagai energy alternative pengganti bahn bakar fosil karena bersih, dapat dipebaharui dan menghasilkan energy tinggi. Produksi gas secara biologis dilakukan dengan fermentasi anaerob yang ramah lingkungan dan proses hemat energy. Asidifikasi anaerob pada limbah organic akan menghasilkan berbagai asam organic, H2, CO2 dan senyawa intermediet lainnya. Reaksi melibatkan produksi hydrogen secara cepat dan tidak membutuhkan radiasi matahari sehingga dapat dibuat dalam skala besar bahan organic (Shin and Youn, 2005).
Mikroorganisme yang melakukan fermentasi ini diantaranya adalah Clostridium dan Thermoanaerobacterium yang mampu menghasilkan hydrogen dari karbohidrat. Selama asidifikasi anaerob pada limbah organic, bakteri metanogenesis dan bakteri pereduksi sulfat mengkonsumsi hydrogen yang dihasilkan oleh acidogenesis sehingga berkontribusi negative dalam produksi bio-hidrogen. Oleh karena itu, guna produksi gas hydrogen perlu dilakukan penghambatan terhadap prganisme mengkonsumsi hydrogen missal dengan waktu hidraulik yang pendek atau dengan pH rendah (Shin and Youn, 2005).
Limbah organic yang kaya karbohidrat membutuhkan waktu tinggal hidraulik (WTH) lebih dari 3 hari untuk asidifikasi yang mana consumer hydrogen seperti methanogenesi dapat berkembangbiak, sehingga produksi gas hydrogen hanya sepertiganya. Namun demikian, jika consumer hydrogen dapat dikendalika selama asidifikasi , hydrogen dapat diperoleh secara efektif dari limbah organic. Walaupun produksi gas hidrogen dari limbah kaya karbohidrat umumnya dipublikasikan dalam penelitian batch namun percobaan secara kontinyu juga telah dilaporkan dengan menggunakan kondisi termofil dan bukan mesofil
Pada asidifikasi termofil, biogas yang dihasilkan mengandung hydrogen dan karbon dioksida tetapi tidak terdetksi adanya metana pada semua laju masukan bahan organic. Produksi Hidrogen dapat mencapai 62 %(v/v) dan meningkat dengan meningkatnya laju aliran masukan. Namun demikian, efisiensi dekomposisi karbohidrat dalam limbah akan berkurang dengan meningkatnya laju aliran. Asam organic utama yang ada adalah asam butirat dan asetat masing-masing sebanyak 62 – 65% dan 22 – 25%. Asam laktat dan propionate sebgai tanda adanya coksumer hydrogen hanya ada dalam jumlah 0,1 – 2,0% dan 1,6 – 2,2% (Shin and Youn, 2005).
Thermoanaerobacterium thermosaccharolyticum diketahui sebagai mikroorganisme menghasil hydrogen yang tumbuh dengan baik pada pH 5,0 – 6,0. Bakteri ini merupakan sakarolitik termofil yang terlibat dalam fermentasi asetat/butirat dan mampu menghasilkan hydrogen dalam jumlah besar dari karbohidrat. Bakteri ini memiliki isaran pH optimum 5 – 6 dengan suhu pertumbuhan optimunya 600C. produksi hydrogen sebanyak 2,4 ml H2 / mol glukosa setara dengan kemampuan produksi Clostridium butyricum yang menghasilkan gas hydrogen 2,4 mol H2 /mol heksosa (Shin and Youn, 2005).

sumber
Shin, H-S and J-H. Youn. 2005. Conversion of food waste into hydrogen by thermophilic acidogenesis. Biodegradation 16: 33–44


Sumber Nitrogen Bagi Mikrobia

Juni 14, 2009

Semua mikrobia mampu mengunakan nitrogen anorganik, dapat mengasimilasi amonia atau garam-garam amonium. Nitrat dapat direduksi menjadi amonium, dan khamir tidak mampu melakukannya. Pertumbuhan mikrobia menggunakan garam-garam amonium sebagai sumber karbon, seringkali meningkat dengan penambahan asam-asam amino atau basa purin dan pirimidin dalam medium. Ini biasanya karena laju sintesis satu atau lebih senyawa membatasi laju pertumbuhan. Dalam industri atibiotika, corn steep liquor telah lama digunakan sebagai sumber nitrogen dalam medium, ini merupakan limbah produksi pati jagung, konsentrasi cairan yang didapat dari tahap pertamapada biji. CSL mengandung 7 – 8 % nitrogen dan kaya akan nukleotida dan vitamin.

Beberapa mikrobia seperti asam laktat membutuhkan asam amino tertentu yang tidak dapat disintesisnya. Oleh sebab itu, berbagai sumber amino nitrogen yang relatif mahal seperti tepung kedelai, tepunng ikan, dan tepng kacang tanah sering digunakan. Serealia yang dimasak dan ditumbuk (malt barley) biasanya mengandung banyak gula dan asam amino untuk pertumbuhan mikrobia, karena amilase dan protease dihasilkan selama perkecambahan barley. Media dasar whey susu jugakaa asam amino sebagai laktalbumin dan laktaoglobulin. Suatu saat mungkin digunakan pula limbah dari tempat pemotongan.

Peptida seringkali memacu pertumbuhan dan memang hidrolisis enzim pada proteinsering memberikan nilai lebih tinggi dalam pertumbuhan mikrobia tertentu daripda campuran asam amino dalam jumlah yang sama. Sebagai teladan, Streptococcus faecalis hanya tumbuh lemah pada medium yang mengandung arginin dan asam amino yang diketahui dibutuhkan. Jika campuran sam amino diganti dengan peptda yang mengandung arginin,pertumbuhan akan lebih baik. Ekstrak sel S. Faecalis kaya akan enzim arginin dehidrogenase dan ini diduga bahwa peptida melewati membran sitoplasma dan kemudian digunakan untuk sistesis protein, asam amino bebas mungkin dimetabolisme menjadi tidak tersedia untuk sisntesis protein (misalnya arginin akan di dehidrogenasi).

Streptogenin, faktor tumbuh untuk Streptococci adalah peptida dengan bera molekul rendah, ditemukan dalamtryptic hydrolisate pada protein. Struktur yang pasti dari peptida ini tidak jelas, tetapi sintesis seperti serin-glisin-asam glutamat ditemukan mempunyai aktivitas yang sama.

Nitrogen dapat menjadi faktor pembatas karena dibutuhkan dalam jumlah yang besar. Kapang tidak dapat memfiksasi nitrogen, tetapi dapat menggunakan berbagai macam sumber nitrogen.

Dasar criteria penggunaan nitrogen:

1. Dibutuhkan hanya satu asam amino, misal asam glutamat dan mensintesis asam amino lainnya dengan transaminasi.

2. Kebanyakan kapang dapat menggunakan ammonium sebagai satu-satunya sumber nitrogen yang akan dikombinasikan dengan asam organic dari siklus TCA membentuk asam glutamate. Disini menunukkan tidak terlibatnya protein.

3. Beberapa dapat menggunakan nitrat sebagai sumber nitrogen dan mengubahnya menjadi ammonium oleh nitrat atau nitrit reduktase.


Bacteria eating viruses help fight food pathogens: EFSA study

Mei 19, 2009
By MIke Stones, 18-May-2009

http://www.bakeryandsnacks.com/Publications/Food-Beverage-Nutrition/FoodProductionDaily.com/Quality-Safety/Bacteria-eating-viruses-help-fight-food-pathogens-EFSA-study/?c=Mw3I8ARrLy9tka7BWXB0MQ%3D%3D&utm_source=newsletter_daily&utm_medium=email&utm_campaign=Newsletter%2BDaily

“Bacteria eating” viruses, known as bacteriophages, could be an effective way of eliminating specific food pathogens, according to a recent report from the European Food Safety Authority’s BIOHAZ Panel.

Some bacteriophages, under specific conditions, could be used to eliminate specific pathogens in milk and meat products, concluded the study.

The panel, which deals with biological hazards in the field of food safety and food-borne diseases, noted that bacteriophages tend to persist longer than their hosts and behave as inert particles in the environment.

But, their long-term antibacterial activity is reduced on dry surfaces and their persistence in food varies with each bacteriophage, and with the conditions of application. Factors include: Dose, and physical and chemical factors associated with the food such as pH and moisture levels. For example, refrigeration temperatures improve the persistence of bacteriophages on the surfaces of meat and dairy products.

Environmental factors

However, after reviewing peer-reviewed scientific literature, the panel was unable to conclude whether or not bacteriophages can protect against bacteria in cases where the food becomes re-contaminated. The effectiveness of bacteriophages against re-contamination of food may vary according to the characteristics of the food, the type of bacteriophage and how it is used, and environmental factors.

The panel recommended further research to gauge the persistence of bacteriophages in foods and their ability to prevent recontamination with bacterial pathogens. Research should focus on specific combinations of bacteriophages, pathogens and foods, it said.

The panel’s study stemmed from a request from European Commission for the European Food Safety Authority (EFSA) to advise on the use of bacteriophages on food of animal origin. It was asked to particularly focus on the mode of action of bacteriophages on carcasses, meat and dairy products.

Bacterial cells

Bacteriophages occur in a broad range of habitats in nature and can be isolated from meat, milk and derived products. They replicate best on growing bacterial cells, but can also reproduce on cells which are not in a growing phase.

The US Food and Drug Administration first approved the use of bacteria eating viruses as food additives in ready-to-eat meat and poultry to protect against Listeria three years ago.