Produksi jamur Tiram dari Baglog Alang-alang

Abdul Karim Parlindungan

Jurnal Natur Indonesia 5(2): 152-156 (2003)

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900 dan jamur tiram kelabu (Pleurotus sajor caju) pada tahun 1974 (Gunawan 2000). Untuk memproduksi kedua spesies jamur tersebut sebagai bahan makanan manusia, salah satu faktor yang perlu diperhatikan yaitu tersedianya substrat sederhana dan murah (Brock & Michael 1991). Pada umumnya substrat yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji. Sebagai konsekuensi akan timbul masalah apabila serbuk gergaji sukar diperoleh atau tidak ada sama sekali di lokasi yang akan menjadi sasaran penyebaran budidaya jamur tiram. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi perlu dicari substrat alternatif yang banyak tersedia dan mudah diperoleh di daerah tersebut.

Sebelum membuat keputusan untuk membudidayakan jamur tiram di suatu daerah maka salah satu pertimbangan yang perlu diambil adalah ketersediaan substrat pertumbuhan jamur. Hal tersebut diperlukan agar budidaya jamur yang akan dilakukan di suatu daerah tertentu dapat berlangsung secara berkesinambungan. Pada umumnya teknologi budidaya yang diterapkan para petani jamur tiram yaitu penggunaan serbuk gergaji sebagai substrat menjadi
“baglog” yaitu substrat yang dikemas didalam kantong plastik tahan panas.

pupuk NPK (0,5%) memberikan jumlah rumpun jamur tiram putih dan tiram kelabu yang tidak lebih baik daripada SP36.

Dari hasil percobaan ini dapat dibuat kesimpulan bahwa karakteristik pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih pada baglog alang-alang yang sudah direndam dengan larutan 1% SP36 adalah yang terbaik diantara jamur tiram putih dan tiram kelabu pada baglog alang-alang yang sudah direndam dengan 0,5% NPK dan jamur tiram kelabu yang baglognya sudah direndam dengan 1% SP36. Namun karakteristik pertumbuhan dua spesies jamur tiram ini pada baglog alang-alang belum dapat menyamai karakteristik pertumbuhan dan produksi jamur tiram pada baglog serbuk gergaji