Arsip

Buletin Mikrobiologi Edisi Maret 2011

isi buletin edisi kali ini adalah:

1. Fermentasi jagung sebagai pangan fungsional

2. teknik isolasi jamur dari produk komersial

buletin dapat di download di:

http://permi.or.id atau di

http://www.ziddu.com/download/14508070/permi04032011.pdf.html

selamat membaca, kami menunggu artikel populer tentang mikrobiologi dari para pembaca blog ini untuk kami muat di buletin

salam

nur hidayat

Hama dan penyakit pada jamur tiram

Budidaya jamur tiram dapat dipandang dari dua sisi yaitu seni dan pengetahuan. Dari sisi seni maka kita harus merawatnya sedapat kita lakukan, sebagaimana seorang seniman merawat lukisannya. Jika sebagai pengetahuan, kita harus mempelajari bagaimana merawatnya, agar dihasilkan produk yang tinggi dan baik. Dua tujuan ini harus dipahami oleh seorang yang melakukan budidaya jamur tiram.

Hama dan penyakit sering terjadi akibat kecerobohan kita sendiri. Seorang pembudidaya harus dapat menjaga dari segala kemungkinan yang terjadi. Fungsida, insektidida dan bahan kimia lainnya dapat membantu,tetapi pencegahan tanpa bahan kimia lebih baik untuk dilakukan.

Pada tulisan kali ini yang akan kita bicarakan barulah jenis-jenis hama dan penyakit pada budidaya jamur tiram sedang cara pencegahan belum dibahas. Hal ini untuk menjawab pertanyaan pada blog tentang hama dan penyakit yang sering ada pada jamur tiram.

Hama

a. a. Megaselia: larvanya akan memakan jamur

<!b. Lycoriella: problem yang paling sering terjadi. Larva benar-benar merusak. Genus ini mudah diidentifikasi dari kepalanya yang hitam pada larva dan sayap. Umumnya muncul dari udara atau tanaman sekitar. Jamur liar merupakan makanan alami mereka

c.  c. Mycophila: larva berwarna oranye

d. d. Heteropeza: serangga sangat kecil

e. e. Nematoda: cacing berukuran sangat kecil dapat memakan jamur

f. Tungau: memakan jamur secara langsung dan menyebabkankerusakan jamur

g. Hama lain yang perlu diperhatikan adalah siput, cacing, tikus

PePenyakit

Tra. Trichoderma: Jamur berwarna hijau ini umum menyerang jamur tiram. Umumnya berasal dari udara atau dari pekerja. Dapat terjadai pada substrat yang mengalami pasteurisasi berlebih (maksimum 600C).

b. b. Verticillium: Gelembung-gelembung kering menyebabkan distorsi dan bercak.

c. c. Pseudomonas tolaasii

d. d. Virus: menyebabkan perubahan warna jamur

e. e. Jamur lendir: menjadikan penampakan jamur tidak menarik

Kelainan karena kondisi lingkungan

a. Batang memanjang: merupakan penyakit fisiologi yang disebabkan oleh kelebihan karbon dioksida, ventilasi yang kurang, dapat juga disebabkan kurangnya cahaya biru

Perhatikan pula jangan sampai kelebihan air karena akan mengganggu udara mencapai substrat. Miselium tidak dapat menggunakan substrat yang terlalu basah.

dalam artikel ini tidak ada foto, untuk lengkapnya dapat di download di artikel berikut:

Buku jamur Tiram

Copper as a fungal virulence determinant

 http://www.nature.com/nchembio/journal/v4/n3/full/nchembio.72.html

t has long been established that invading pathogens must compete favorably for limited nutrients to both establish and maintain a successful host infection. Although iron has been well characterized as a virulence determinant in bacterial and fungal infections, recent studies indicate that Cu modulates critical virulence determinants, with its role extending beyond functioning solely in iron acquisition. Cryptococcus neoformans is an opportunistic human fungal pathogen that causes life-threatening infections in individuals and also represents the major causative agent of fungal meningitis. Infection, which is initiated in the lung, elicits an immediate host innate immune response in which activated alveolar macrophages phagocytose the fungal cells and initiate a cascade of events that culminates in the release of microbiocidal levels of ROS, an event known as the oxidative burst. Although C. neoformans can evade this host response through polysaccharide capsule production, it is thought that this microorganism uses macrophage residency as an efficient mechanism to evade further host immune attack and possibly enable systemic bloodstream infection and dissemination.Among the many transcriptional changes that accompany adaptation to the macrophage intracellular milieu, expression of the two laccase-encoding genes and the Cu-dependent iron ferroxidase/permease system is upregulated. Laccase is a multi-Cu enzyme that oxidizes phenolic compounds and is involved in melanin biosynthesis. Melanin, a bona fide virulence factor, is thought to bind superoxide and is critical to intracellular adaptation because it provides protection against ROS generated during the oxidative burst. In view of this, it would be expected that acquisition of adequate Cu levels would contribute toward virulence, and more so in the nutrient-limited environment of the host. Genetic analysis in C. neoformans has demonstrated that the Ctr4 high-affinity Cu1+ transporter, which is functionally analogous to Ctr1 in baker’s yeast, and its corresponding transcriptional regulator Cuf1 (Mac1), are required for the infection of the brain but not the lung in mouse models of cryptococcosis