Hasil penelitian tentang adanya cemaran Enterobacter sakazakii pada susu formula bayi yang diberitakan belakangan ini sangat menghebohkan. Tampak sangat mengejutkan dan menyita banyak perhatian dari beragai kalangan. Wabah meningitis atau peradangan otak pada bayi akibat mengkonsumsi susu formula pada bayi sebenarnya sudah dilaporkan sejak tahun 1961. Namun kejadian luar biasa sakit meningitis pada bayi ini terus terjadi sepanjang tahun sampai tahun 2004. Keprihatinan adanya cemaran ini mendapat perhatian serius dari WHO dan FAO yang telah mengadakan pertemuan khusus membahas adanya cemaran Enterobacter sakazakii dan mikroorganisme lain yang terdapat pada susu bubuk formula bayi pada tanggal 2-5 Februari 2004 di Geneva.
Tim peneliti bidang keamanan pangan Fakultas Biologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta sebenarnya telah melakukan penelitian terhadap cemaran Enterobacter sakazakii pada susu formula bayi pada tahun 2006-2007. Penelitian diarahkan untuk mendeteksi adanya cemaran E. sakazakii pada salah satu produk susu bubuk formula bayi untuk usia 0-6 bulan. Sampel produk susu diambil dari beberapa supermarket yang ada di kota Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan waktu yang berbeda, kode produksi yang juga berbeda-beda. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 15 kali dan setiap kali sampling dilakukan 2 kali ulangan, sehingga total semua sampel berjumlah 30 sampel untuk satu jenis produk susu formula bayi. Dari sampel yang diteliti didapatkan 33 isolat yang dicurigai sebagai kandidat E. sakazakii yaitu koloni yang berwarna kuning yang tumbuh pada medium TSBA, koloni tersebut kemudian diisolasi dan dimurnikan untuk selanjutnya diidentifikasi secara biokimia yang merujuk ke aras genus Enterobacter. Setelah itu diuji lebih lanjut ke aras spesies E. sakazakii menurut kunci idenfifikasi Bergey’s Manual of determinative Bacteriology (Edisi 9, tahun 1994). Hasil identifikasi terhadap adanya cemaran E. sakazakii menunjukkan hasil yang negatif dari 30 sampel yang diuji. Dari hasil yang negatif terhadap salah satu produk susu formula bayi tersebut, tim peneliti kemudian mencoba mendeteksi keberadaan cemaran E. sakazakii pada susu mentah, dimana susu mentah merupakan bahan baku utama produk susu. Sampel susu mentah diambil didaerah Kabupaten Sleman yang merupakan sentra peternakan susu terbesar dan beberapa tempat lain yang ada di kota Yogyakarta. Produk susu mentah dari peternak tersebut juga disetorkan ke salah satu pabrik susu yang ada dikota Yogyakarta. Hasil deteksi dari 15 kali sampling atau 30 sampel susu mentah yang diuji juga tidak ditemukan adanya cemaran E. sakazakii. Penelusuran lebih lanjut dilakukan pada ambing sapi, dimana ambing sapi yang kotor karena terkontaminasi feses sapi dapat menjadi media penyebaran E. sakazakii . Penelitian adanya cemaran E. sakazakii pada ambing dilkukan dengan melakukan swab pada seluruh bagian ambing sapi perah. Jumlah ambing sapi yang diteliti masih sebatas 20 ekor sapi, yang disampling secara acak di sentra peternakan yang ada di kabupaten Sleman. Dari 20 ambing sapi perah yang diteliti juga tidak ditemukan adanya cemaran E. sakazakii.
Pelacakan adanya cemaran E. sakazakii dilanjutkan pada feses sapi yang masih baru (baru saja keluar anus sapi perah). Habitat asli E. sakazakii adalah saluran intestin yang merupakan tempat tinggal bagi kelompok bakteri enterik. Dari saluran intestin inilah E. sakazakii keluar ke lingkungan bersama dengan feses. Dengan meneliti ada atau tidaknya cemaran E. sakazakii pada feses maka kita sudah meneliti sumber utama cemaran E. sakazakii pada susu dan semua produk yang berbahan dasar susu sapi mentah. Hasil penelitian dari 20 sampel feses sapi perah menunjukkan bahwa tingkat cemaran total bakteri antara 1,1×109–2,8×1010 cfu/gram feses, dan jumlah cemaran kelompok enterobakter anatara 1,1×105–2,8×106 cfu/gram. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan didapatkan 120 isolat genus Enterobacter. Namun dari 120 isolat tersebut tidak satupun teridentifikasi sebagai E. sakazakii . Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan kelompok cemaran enterobacter tersebut adalah : Enterobacter aerogenes, Enterobacter cloacae, Enterobacter gergoviae dan Enterobacter biogroup 1.
(Tim peneliti : Tri Yahya Budiarso, Noni Sukmawati, Magdalena Danissa dan Chritine Debora Nabuasa) .
Fakultas Biologi Universitas Kristen Duta wacana Yogyakarta.
Kontak person : 0274-563929, psw 131 atau hp : 081392580765
Fakultas Biologi Universitas Kristen Duta wacana Yogyakarta.
Kontak person : 0274-563929, psw 131 atau hp : 081392580765
E-mail : yahya@ukdw.ac.id ; yahya_budiarso@yahoo.com
Tambahan dari Bu Ratih IPB:
E. sakazakii tidak hanya ditemukan di susu formula. dalam review Jeff farber (2004) dismpaikan bakteri ini dapat diisolasi dari berbagai lingkungan pabrik, khususnya pabrik dry products (pabrik coklat bubuk, pabrik serealia, bahkan di rumah tanggak dengan isolation rate 20-30%). bakteri yang juga banyak ditemukan di udara (debu) ini juga diisolasi dari beberapa jenis pangan lain seperti daging kiuring dll.
Bakteri sakazakii tergolong dry resistant, oleh karena itu menjadi concern susu bubuk (baik formula atau susu bubuk biasa) dan lazaimnya tidak merupakan concern untuk susu sapi mentah/cair. Untungnya dari berbagai data, dilaporkan bahwa bakteri ini tidak tahan panas (termasuk 8 isolat yang kami peroleh). Inilah yang seyogyanya disampaikan ke khalayak/ibu-ibu karena manajemen risiko di tingkat rumah tangga dapat dilakukan oleh para ibu dengan menggunakan air bersuhu 70 C dan hang time selama 2 jam (di hospital rekomendasi hang time selama 4 jam)
Kalau kita mau menengok perkembangan dunia, Codex telah memiliki draft tahap 3 tentang manajemen bakteri E. sakazakii khususnya untuk pabrik/industri, tentunya perjalanan draft ini untuk menjadi kebijakan masih panjang mengingat masih ada 5 tahap lagi untuk suatu keputusan Codex. Menurut saya ada poin penting dari drfat tersebut yakni : E. sakazakii digolongkan sebagai patogen yang direkomendasikan untuk diuji dalam susu formula (SNI kita belum mencantumkannya), meskipun demikian sampling plannya bahkan tidak se”stringent” Salmonella. Artinya para pakar di Codex menganggap E. sakazakii sebagai hazard yang potensial tetapi risikonya lebih terbatas/kecil dibandingkan Salmonella.
Salam sakazakii,
Ratih Dewanti
Ditulis oleh ptp2007