Perajin Tempe Malang tidak Terusik Kenaikan Harga Elpiji

Maret 28, 2008

sumber: http://www.media-indonesia.com/berita.asp?Id=156962

Sabtu, 26 Januari 2008 20:48 WIB

Reporter : Bagus Suryo JAKARTA – MI : –>
MALANG–MI:
Perajin tempe di Sanan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) masih bertahan dengan bahan bakar minyak tanah dan kayu bakar, dan belum menggunakan elpiji dalam menjalankan usaha. Sehingga mereka tidak terpengaruh dampak kenaikan elpiji industri.
“Sebagian besar perajin tempe di Sanan menggunakan bahan bakar minyak tanah. Sejauh ini yang menggunakan elpiji baru dua orang,” kata Wakil ketua Primkopti Bangkit Usaha Malang, Jatim, Chamdani kepada Media Indonesia, Sabtu (26/1).

Dia mengatakan perajin yang memproduksi tempe dan keripik tempe di Sanan berjumlah 412 orang. Untuk keperluan bahan bakar dalam memasak kedelai atau menggoreng keripik tempe masih mengandalkan bahan bakar minyak tanah, meski para perajin telah menerima bantuan kompor dan tabung gas elpiji 3 kg dari Pertamina.

“Bantuan kompor dan tabung gas elpiji untuk keperluan rumah tangga, bukan bantuan untuk menjalankan usaha,” tegasnya.

Alasan belum beralihnya penggunaan bahan bakar minyak tanah ke elpiji, kata dia, karena proses pemanasan dengan menggunakan minyak tanah dinilai lebih optimal ketimbang menggunakan elpiji.

Selain itu beralih ke elpiji dibutuhkan modal cukup besar Rp6 juta karena perajin harus mengganti peralatan merebus dan pengadaan kompor gas.

Sejauh ini perajin sudah terbiasa dengan bahan bakar minyak tanah dan kayu bakar karena peralatan (panci) untuk merebus kedelai yang digunakan sudah dimodifikasi untuk dua jenis bahan bakar tersebut.

Untuk itu, kata dia, perajin tempe di Sanan tidak terpengaruh dengan naiknya harga elpiji bulk untuk industri dan elpiji kemasan 50 kg. Sebab mereka menggunakan minyak tanah yang bisa dibeli Rp2.500 per liter, dan sejauh ini pasokannya cukup lancar meski dikurangi dari 5.000 liter menjadi 2.400 liter per hari.

Pada bagian lain nelayan di pantai Sendangbiru Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jatim, belum menggunakan elpiji untuk keperluan mencari ikan di laut.

Mereka masih menggunakan minyak tanah. Meski harga minyak tanah di daerah ini mencapai Rp4 ribu per liter atau lebih mahal dari harga sebelumnya Rp3.200 per liter. Pertimbangan harga minyak tanah di daerah ini lebih mahal karena faktor transportasi karena jarak tempuh dari Kota Malang ke Pantai Sendangbiru mencapai 87 kilometer.

Seorang nelayan payang Mariyanto Efendi mengungkapkan membutuhkan 10 liter minyak tanah selama melaut. Sedangkan untuk nelayan sekoci yang melaut selama dua minggu minimal dibutuhkan 30 liter minyak tanah.

“Penggunaan minyak tanah di kalangan nelayan untuk penerangan dan memasak ketika sedang melaut,” katanya.

Sejauh ini nelayan setempat belum memutuskan melaut kembali dengan pertimbangan cuaca buruk. Mereka akan melaut pada bulan Maret dan April, saat cuaca sudah normal.(BN/OL-03)