Fermentasi Asam Glukonat

Februari 27, 2008

Asam glukonat terutama bentuk garamnya seperti sodium glokonat memiliki banyak kegunaan dalam bidang kimia, farmasi (misal defisiensi besi dan kalsium), makanan, minuman, tekstile dan industri lainnya. Asam glukonat juga dipakai untuk melarutkan fosfat dan aditif pada semen yang digunakan dalam industri konstruksi agar tahan terhadap kondisi cuaca yang ekstrim. Lebih dari 50.000 ton asam glukonat dihasilkan per tahunnya menggunakan Aspergillus niger yang ditumbuhkan pada glukosa atau corn steep liquor secara aerob dengan suhu 300C pH 6 – 7 selama 20 jam dengan hasil mencapai 90%.Pada mulanya proses fermentasi asam glukonat menggunakan kapang Penicillium. Kemudian digunakan strain Aspergillus niger yang telah diperbaiki dengan siklus ulang miselia atau menggunakan Gluconobacter suboxidans dalam fermentasi diskontinyu. Pembentukan asam glukonat juga dapat menggunakan khamir Aureobasidium (semula Dematium atau Pullularia) pullulans dengan berbagai sumber karbon. Akhir-akhir ini produksi asam glukonat menggunakan A. pullulans juga mulai dikembangkan.Sejumlah metode telah dikembangkan untuk produksi asam glukonat, termasuk secara kimia dan katalisis elektrokimia, biokatalis enzimatik dalam bioreaktor enzim, produksi dengan mikrobia yang diamobilisasikan dari Gluconobacter oxydans atau Aspergillus niger. Amabilisasai sel utuh atau enzim glukosa oksidase dengan berbagai metode sudah sering dilaporkan untuk memperbaiki produksinya. Fluidized bed reactor sering digunakan untuk beberapa aplikasi fermentasi terutama proses anaerob. Pemisahan biokatalis selalu dikaitkan dengan biaya yang tinggi yang secara ekonomi mempengaruhi proses fermentasi. Amobilisasi sel secara ekonomis akan lebih efisien untuk produksi asam glukonat secara batch ataupun kontinyu. Sankpal dan Kulkami (2002) telah melakukan fermentasi asam glukonat menggunakan sel amobil dari A. niger pada media selulosa dengan porositas yang tinggi. Tertahannya biomass dalam media amobil akan mempercepat produksi asam glukonat secara kontinyu dan memaksimalkan konsentrasi produk.

Produksi asam glukonat juga dapat menggunakan Aerobasididum pullulans. Medium Yeast malt extract agar (YME) diinokulasi dengan Aureobasidium pullulans dan inkubasi 2 – 3hari kemudian disimpan pada suhu 40C. Inokulum (10%) dibuat dengan memindahkan sel dri agar plate ke dalam erlenmeyer 500 ml yang mengandung (g/l): Glucosa, 30 g/l, NH4Cl 3 g/l, KH2PO4 1.4 g/l, MgSO4. 7H2O 0.35 g/l, MnSO4.4H2O 5 mM, FeSO4.7H2O 1 mM, CuSO4 x 5 H2O 4 μM (1 mg/l), ZnSO4.7H2O 0.01 g/l, CoSO4.7H2O 4 mg/l, H3BO3 0.04 g/l, CaCl2 0.1 g/l, NaCl 0.1 g/l, citric acid 2.5 g/l, Na2MoO4.2H2O 0.2 mg/l, thiamine-HCl 2 mg/l, biotin 0.25 g/l, pyridoxine-HCl 0.625 mg/l, Ca-D-pantothenate 0.625 mg/l, nicotinic acid 0.5 mg/l. medium ii juga digunakan untuk kondisi kultur di fermentor. Fermentasi berlangsung pada suhu 300C dan pH 6,5 yang diatur dengan menambahkan NaOH 45%. Medium fermentasi secara kontinyu dimasukkan dalam fermentor. Anti buih diberikan tiap 1,5 jam. Fermentor bekerja berdasar prinsip kemostat dengan pengaturan suhu, suplai oksigen dan pengeluaran gas (Gambar 1).

glukonat1.jpg

Pada produksi asam glukonat secara kontinyu ini biomass ditahan oleh filter yang dihubungan dengan fermentor (Gambar 1). Fermentor, médium dan larutan NaOH disterilkan secara eksternal dalam autoklaf besar.Selain dengan menggunakan filter, penahanan sel dapat dilakukan menggunakan teknik amobilisasi. Amobilisasi biomass dilakukan dalam fluidized bed reactor yang bekerja pada volume 0,9 liter (Gambar 2). Untuk amobilisasi biomass, sekitar 350 g porous sinter glass beads ditambahkan dalam fluidized bed reactor. glukonat2.jpg Gambar2 Fermentai glukonat secara kontinyu dengan A. pullulans pada kondisi optimum (pH 6,5 suhu 300C, kejenuhan udara 120 – 180%) menggunakan médium yang telah dioptimasi dihasilkan lebih dri 220g/l pada kondisi steady state. Dengan glukosa 450g/l dalam médium yang dimasukkan dan kejenuhan udara 155% dihasilkan 315 g/l asam glukonat dengan waktu tinggal 21 jam dn biomass 6,8 g/l yang terbentuk. Produksi asam glukonat secara kontinyu dengan waktu tinggal 25 jam mencapai steady state sekitar 170 jam setelah inokulasi. Konversi produk adalah 82,5% untuk waktu retensi 21 jam dan 92% untuk waktu retensi 25 jam.Produksi metabolit mikrobial baik primer ataupun sekunder biasanya terjadi pada kondisi stress. Komposisi médium memainkan peran penting untuk keberhasilan produksi metabolit. Parameter fermentasi seperti pH, oksigen, suhu dan komposisi médium mempengaruhi produksi asam glukonat. Dalam kultur kemostat konvensional tidak terdapat penahanan biomass, pertumbuhan dan produksi terjadi secara simultan. Alternatif baru untuk produksi secara kontinyu adalah menggunakan sel yang tidak tumbuh atau penahanan biomass menggunakan A. pullulans Penahanan biomas dengan amobilisasi atau dengan filter dapat digunakan untuk mengoptimalkan proses fermentasi kontinyu pada waktu yang sangat pendek yang apabila dilakukan secara normal akan menyebabkan sel ikut keluar (wash out) dari fermentor. Jadi laju pertumbuhan spesifik produk dapat dikendalikan, pembentukan produk tidak terkait dengan laju pertumbuhan. Beberapa penelitian menunjukkan perkembangan fermentasi asam glukonat. Produksi asam glukonat secara kontinyu dengan sel yang tidak tumbuh dari A. niger dan Penicillium ataupunorganisme lain tanpa adanya penahanan biomass. Asam glukonat sebanyak 260 g/l dihasilkan secara kontinyu dari A. pullulans dengan kondiri waktu tinggal 15,3 jam, sekitar 305 – 315 g/l bila waktu tinggal 21 jam, 370 g/l pada 21 jam dan dalam percobaan fed-batch dapat dicapai 504 g/l dalam waktu tinggal 19 jam. Pada miselia A. niger teramobilkan dapat dihasilkan asam glukonat 120 – 140 g/l, hasil dapat lebih tinggi pada ferd-batch, namun produksi tidak dapat mecapai lebih dari 220 g/l. produk metabolit juga sering menjadi faktor penghambat umpan balik dlam fermentasi. Konsentrasi asam glukonat 250 g/l adalah konsentrasi batas bagi A. pullulan dan 300 g/l untuk A. niger. A. niger sulit ditangani karena sering menyebabkan penyumbatan selama fermentasi dan tidak stabil untuk operasi kontinyu. Gluconobacter menghasilkan cukup banyak asam keto selama produksi asam glukonat jadi menyulitkan dalam isolasi asam glujkonatnya. Peningkatan kadar glukosa yang lebih tinggi dari 0.56 M juga menurunkan konversi glukosa pada Gluconobacter oxydans. Daftar PustakaAnastassiadis, S and Hans-Jürgen Rehm. 2006. Continuous gluconic acid production by Aureobasidium pullulans with and without biomass retention. Electronic Journal of Biotechnology. Vol.9 No.5, Issue of October 15.Waites, M.J., N.L. Morgan., J.S. Rockey and G. Higton. 2005. Industrial Microbiology. An Introduction. Blackwell Publishing Co. Oxford.

Jurnal Terkait yang dapat di download

1. Gluconic assay procedur

2. Continuous gluconic acid production


Fermentasi Asam Glukoronat dan Glukonat

Februari 26, 2008
  1. Glukoronat sebagai substrat bagi Lactobacillus brevis

Garam sodium dari asam glukoronat dibuat dari g-lakton. Lakton (1%) dihidroliis dengan NaOH 0,2 N pada 450C selama 3 jam dengan pH 6,8. Medium basal mengandung sodium glukoronat atau glukosa yang disetrilkan dengan filter membran. Setelah 24 jam inkubasi pada 320C, sel di panen dan dicuci tiga kali dengan aquades dan disuspensikan dalam bufer fosfat 0,25M (pH 6,0). Lacobacillus brevis mampu tumbuh pada glukoronat dengan menghasilkan CO2, asam asetat dan laktat namun inaktif dalam sumber karbon glukosa.

Sumber:

Stammer, J.R and B.O. Stoyla. 1968. Fermentation of Glucoronic Acid by Lactobacillus brevis.Appl. Microbiol 16: 536 – 537


Budidaya Jamur Tiram lebih Mudah dengan Media Murah

Februari 26, 2008

http://www.cybertokoh.com/news/jamur.htm

Edisi 325 / Minggu / 1 3 Maret 2005

AGRIBISNIS jamur tiram, di Nusa Tenggara Barat, sampai saat ini masih tergolong hal baru. Di Jawa dan Bali, bisnis ini sudah cukup lama dikenal. Di Lombok, tidak banyak bahkan bisa dikatakan hanya satu dua saja yang menggeluti usaha ini. Salah satunya adalah usaha yang dirintis Ir. M. Mahrup Kaseh sejak tahun 1989. Hingga kini usaha itu masih bertahan dan terus melakukan inovasi pada teknik budidaya dan pengembangan pemasarannya sehingga menjadi agribisnis yang utuh dan mudah dilaksanakan sebagai teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.
Pengembangan teknik budidaya ini dipermudah dengan menggunakan bibit sebar dedan dengan media yang mudah dan murah. Alat pres dan alat sterilisasi direkayasa sendiri sehingga mudah dilaksanakan dengan hasil yang baik. “Teknik dan alat yang digunakan merupakan hasil pencarian terus menerus,” ungkap pensiunan PNS ini yang mengaku, belajar membudidayakan jamur lewat buku, potongan-potongan koran, majalah dan informasi yang ia kumpulkan.
Di Mataram, menurut, Ir. Parman, Ph.D, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mataram, yang selama ini peduli dalam penelitian dan permasalahan jamur, animo masyarakat untuk membudidayakan jamur ini terbilang kurang. “Padahal untuk komoditi ekspor usaha ini sangat menjanjikan,” katanya.
Berbeda dengan jamur merang yang perlu ruangan tertutup dan hangat serta kedap udara, jamur tiram tidak memerlukan suhu tertentu atau ruang kedap udara. “Pada suhu biasa, jamur tiram bisa tumbuh dengan baik,” lanjutnya. Jamur tiram yang umum dikembangkan untuk budidaya biasanya berwarna putih, sementara warna coklat dan merah muda tidak. Menyoal rasa dari jamur tersebut, ungkap Parman, tergantung medianya. Sementara itu, untuk menghasilkan jamur sesuai warnanya tergantung pada warna asal bibit yang ditanam.-niek
Cermati Ciri-ciri Jamur Beracun
SECARA umum, jamur termasuk dalam jenis sayuran yang mengandung sedikit sekali protein dan hidrat arang, seperti halnya kangkung, ketimun, kool, kembang kool, tauge, sawi. “Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya,” kata Ni Nyoman Widarmini, S.K.M. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum, Mataram.
“Tentunya, jamur yang boleh dimakan atau tidak beracun,” ungkap Ir. Parman, Ph.D. Menurutnya, jamur tiram, yang berkembang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur tiram putih, coklat dan merah muda. Jamur ini, tumbuh di kayu yang mengalami pelapukan atau yang sudah mati, tumbuh pula di ilalang, sampah tebu dan sampah sagu.
Jamur tersebut tidak beracun dan boleh dimakan. Jamur yang tergolong beracun dan tidak dapat dikonsumsi, lanjutnya, jika jamur tiram misalnya, tumbuh di kayu yang masih hidup, tumbuh di bangkai, kotoran ayam atau binatang ternak. “Jika termakan, jamur jenis ini akan menyebabkan keracunan dan dalam konsentrasi racun tinggi dan bisa menyebabkan kematian,” ujarnya.
Ciri-ciri jamur beracun antara lain, umumnya tangkai payungnya bergelang atau terdapat lingkaran menyerupai cincin. Tapi, katanya, tidak semua yang bergelang merupakan jamur beracun. Selain itu, aroma jamur akan terasa berbau sangat tajam, jika dipotong terdapat cairan kekuning-kuningan dan berlendir. “Jika terdapat tanda-tanda tersebut, sebaiknya jamur ini jangan dikonsumsi,” saran Parman. Jamur ini biasanya tumbuh liar, sementara jamur yang sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi tentunya jamur yang tidak beracun, jadi tidak perlu khawatir membeli jamur apalagi yang sudah dalam kemasan.
Selain dikonsumsi dalam keadaan segar, jamur juga kerap dikonsumsi setelah mengalami pengeringan untuk pengawetan. Menurut Nyoman, antara jamur segar dan jamur kering terdapat perbedaan kalori yang dikandungnya. Jamur segar dalam 100 gram di dalamnya terdapat 15 kalori, protein 3,8 gram, lemak 0,6 gr, karbohidrat 0,9 gr, kalsium 3 mg, zat besi 1,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan vitamin C 5 mg.
Sedangkan pada 100 gram jamur kering terdapat 128 kalori, protein 16 gram, lemak 0,9 gr, karbohidrat 64,6 mg, kalsium 51 mg, zat besi 6,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan tidak mengandung vitamin C. “Jamur segar maupun jamur kering keduanya tidak mengandung vitamin A,” ujar Nyoman yang sudah 15 tahun bekerja di Instalasi Gizi ini. – niek
Belum Mampu Memenuhi Permintaan
BUDIDAYA jamur tiram dengan memanfaatkan limbah gergajian kayu yang dilakukan Mahrup, bisa dijadikan alternatif usaha yang mempunyai prospek sangat baik. Selain memakai bahan yang mudah dan murah, Mahrup juga membuat sendiri bibit induk dan bibit sebar jamur tiram ini, sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bibit.
Dalam waktu dua setengah bulan bibit tersebut sudah dapat dipakai, lebih cepat ketimbang proses yang selama ini dikenal yang memakan waktu sekitar empat bulan. Membuat bibit induk dan bibit sebar jamur tiram dilakukan dengan menyediakan media antara lain dedak halus dan tepung jagung yang dicampur dan ditambahkan air lalu dibuat adonan atau pasta (perbandingan 2:1). Media tanam dipres dengan alat pres yang direkayasa sendiri.
Proses perawatan hingga panen dalam budidaya jamur tiram ini juga cenderung gampang. Setelah polybag-polybag dingin, bibit jamur tiram dimasukkan satu sendok di bagian atasnya dan disimpan dalam ruang inkubasi. Jumlah bibit yang dimasukkan tidak akan berpengaruh pada berat jamur yang dihasilkan melainkan proses keluarnya jamur bisa lebih cepat, kata Mahrup. Lama kelamaan, polybag-polybag tersebut nantinya akan kelihatan memutih di seluruh permukaannya. “Jika sudah putih semua, polybag tersebut dapat dipindahkan ke ruang produksi,” ujar Mahrup.
Dalam ruang produksi, perawatan sederhana dimulai dengan membersihkan ruangan tiap pagi serta menyemprot polybag dengan air untuk tetap menjaga kelembaban ruangan serta merangsang tumbuhnya jamur tiram. Agar proses tumbuhnya jamur cepat, maka kapas penutup mulut polybag dibuka beberapa sebelum jamur keluar. Dalam waktu 15 hari dalam ruang produksi, jamur akan terlihat bermunculan, keluar dari mulut-mulut polybag. Tidak lama setelah itu, selang tiga hari kemudian jamur tiram pun mekar dan panen pertama pun bisa dimulai.
Selain menjual jamur segar, Mahrup juga menyediakan polybag-polybag berisi jamur tiram berumur sehari untuk dijual. “Artinya, kami menjual jamur yang sudah keluar dan kemungkinan sudah tidak lagi terkontaminasi,” katanya. Untuk pemasaran polybag jamur siap panen ini, Mahrup memakai sistem mitra, mereka yang sengaja membeli polybag-polybag jamur siap panen tersebut. Sampai saat ini, ia memiliki setidaknya enam mitra yang rutin mengambil masing-masing 200 polybag tiap bulannya. Di samping itu, pemasaran dilakukan di pasar-pasar tradisional sekitar Mataram.
Permintaan akan jamur siap panen dalam polybag tersebut, menurutnya, sangat tinggi, hanya saja ia belum mampu menyediakannya. Tahun 2005 ini ia telah membuat bibit lebih banyak dari biasanya, serta sedang melakukan proses percobaan pada kemungkinan bisa menambah berat jamur tiram saat dipanen setidaknya dua ons. Di rumahnya, tempat budidaya jamur tiram sampai saat ini, Mahrup telah banyak memberikan pelatihan-pelatihan pada mahasiswa tentang budidaya jamur tiram juga sebagai tempat PKL, sumber bahan penelitian dan konsultasi teknologi serta menjadi tempat tujuan agrowisata yang sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di NTB. –niek

olahan-jamur-tiram


Berkerabat dalam Tempe

Februari 19, 2008

Kompas Minggu, 27 januari 2008 | 03:39 WIB. KOMPASFrans Sartono & Madina Nusrat

Tempe bukan sekadar lauk. Di belakang nikmatnya tempe, terentang kultur kekerabatan, etos kerja keras, dan nasib rakyat. Mari menyusuri jejak tempe di tanah Banyumas dengan mendoan dan tempe keripiknya.

Tempe mendoan panas, teh hangat, dan sore yang teduh: itulah kenikmatan pada sebuah sore di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (22/1) lalu. Saat itu Kompas bertandang ke rumah Ahmad Tohari, wong Banyumas yang menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Tuan rumah menghidangkan tempe mendoan yang baru diangkat dari penggorengan. Tempe kedelai itu dilumuri campuran tepung terigu dan tepung beras, plus irisan daun bawang. Tempe digoreng setengah matang alias mendo. Paduan antara rasa kedelai setengah matang plus bumbu-bumbu tadi memberi sensasi rasa gurih-gurih empuk hangat. Dicolok dengan pedasnya cabai, maka sempurnalah kenikmatan sang tempe.

”Mendoan itu seperti jazz. Serba tidak tepat, tapi enak,” kata Ahmad Tohari yang hampir setiap hari menyantap tempe mendoan.

”Adalah suatu kehormatan bila ada tetangga datang ke rumah kita, lalu disuguh mendoan,” tutur Tohari menggambarkan posisi sosiokultural tempe dalam masyarakat Banyumasan.

Tempe menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas yang menurut Ahmad Tohari berorientasi pada budaya egaliter. Tempe disuguhkan hangat-hangat dan disantap bareng-bareng sambil ngobrol sebagai penanda keakraban dan penghormatan.

Makanan rakyat

Tempe menjadi makanan nikmat rakyat dan penghidupan rakyat. Menyusuri malam di Purwokerto, kita akan mendapati tempe mendoan yang disuguhkan di tempat makan lesehan kaki lima, di tempat pelesiran Baturaden yang sejuk, sampai di kafe. Cheers Cafe di Jalan Angka menyuguhkan mendoan yang katanya bisa menjadi kawan minum vodka.

”Mendoan sudah menjadi menu utama kudapan di kafe kami. Pengunjung luar kota sudah tahu itu,” kata supervisor Cheers Cafe, Agung Nugroho.

Kita sambangi Mbak Marni yang membuka warung lesehan di emperan toko di Jalan Jenderal Sudirman, Purwokerto. Orang-orang melahap tempe mendoan sambil mengobrol dengan kawan kopi, teh, atau jahe susu.

”Enaknya memang dimakan waktu panas Mas. Kalau dingin orang enggak mau makan,” kata Marni yang buka sejak jam delapan hingga tengah malam.

Dalam semalam, Marni menyuguhkan sekitar seratus tempe untuk pelanggannya. Satu tempe ia jual dengan harga Rp 700. Dulu, sebelum harga kedelai naik ”pitam”, ia memasang harga Rp 600. Kini penghasilannya menurun. Tapi, ia tak bisa serta-merta menaikkan harga semau-maunya.

”Minyak tanah sulit didapat dan harus antre. Tempe, terigu, minyak goreng, semua naik. Tapi, saya tak bisa menaikkan harga. Untungnya, pembeli menyadari kalau harga-harga naik, jadi mereka tetep beli,” kata Marni yang semalam bisa membawa hasil kotor sekitar Rp 400.000.

Di kalangan konsumen dan penjual tempe terdapat semacam tepa selira, rasa senasib sebagai rakyat yang sama-sama didera harga serba tinggi. Perajin tempe dalam posisi dilematis. Menjual dengan harga tinggi tidak laku, sedangkan memasang harga rendah mereka hanya mendapat keuntungan pas-pasan.

”Dulu, setiap bungkus itu paling hanya untung Rp 30. Tapi sekarang, sejak harga kedelai naik, keuntungan makin tipis lagi, hanya Rp 20 per bungkus. Ora cucuk—tak sepadan—dengan tenaga. Tapi untuk dinaikkan harganya juga sulit, ora payu,” kata Hisam, perajin dan penjual tempe di Pasar Wage.

Makhtub (62), pemilik warung spesial penyaji mendoan di Baturaden, memilih strategi buka tutup. Ia hanya buka warung jika pengunjung tempat wisata ramai. Ia tahu harga kedelai sudah tak realistis, tapi ia tidak tega untuk menaikkan harga mendoan.

”Saya menunggu sampai orang benar-benar menyadari bahwa harga tempe sudah naik tinggi sekali,” kata Makhtub yang membuka warung mendoan sejak tahun 1979.

Dinasti tempe

Ketidaktegaan menjadi salah satu indikator adanya kedekatan hubungan antara perajin dan konsumen. Tempe telah membentuk jaringan antara penikmat perajin, penjual kedelai, sampai petani kedelai. Di Banyumas, jejaring tempe itu kait-mengait dari generasi ke generasi, hingga terbentuk semacam ”dinasti”.

Coba masuk ke Pasar Wage di Purwokerto, tempat Marni kulakan tempe. Di pasar ini ada puluhan perajin tempe yang sebagian besar berasal dari Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Banyumas. Di desa berpenduduk sekitar 8.000 warga itu terdapat sekitar 600 perajin tempe.

Di antara mereka adalah Tanto (38) yang merupakan generasi ke tiga perajin tempe asal Desa Pliken Kulon. Orangtua dan kakek Tanto adalah perajin tempe. Kelima saudara Tanto seluruhnya menjadi bakul tempe. Kini anak Tanto yang berumur 14 tahun ikut berjualan tempe.

Tengok pula kawasan Sawangan atau di sepanjang Jalan Letjen Sutoyo, Purwokerto, yang merupakan pusat oleh-oleh dengan andalan tempe mendoan dan keripik tempe. Salah satu pelaku usaha di sana adalah Lisa (50) yang membuka toko tempe keripik dan mendoan bernama Sawangan 61. Lisa merupakan generasi ketiga penjual keripik tempe dan mendoan. Usaha tempe dirintis kakek Lisa, yaitu Lie Tjwan Seng pada tahun 1948. Usaha dilanjutkan anaknya, Lie Tiang Hien, dan kemudian diteruskan lagi oleh Lisa.

Anak cucu Lie Tjeng Swan selama 60 tahun berlangganan tempe pada anak cucu keluarga Sarengat, perajin tempe yang turun-temurun hingga generasi ke empat dari Desa Pliken. Bagi mereka, hubungan jual beli itu bukan sekadar urusan dagang, tapi telah menjadi semacam kekerabatan antarsesama orang senasib yang berpenghidupan dari tempe.


DNA rules

Februari 1, 2008

http://www.nature.com/nature/journal/v451/n7178/edsumm/e080131-01.html

31 January 2008

The idea that DNA base pairing could direct the crystallization of useful materials is a tempting one for nanotechnologists. Now — over ten years after it was first shown that DNA attached to nanoparticles can influence their assembly — two groups have put this concept into practice. Park et al. demonstrate that the DNA molecules attached to gold nanoparticles, and DNA molecules used to link them, can be selected to ensure that the nanoparticles self-assemble into either face-centred cubic or body-centred cubic crystals. The cover graphic, by Cole Krumbholz, is a close-up of the latter. Nykypanchuk et al. identify the requirements for DNA design and the crystallization conditions that allow the reversible formation of body-centred cubic crystals, with nanoparticles occupying just a few percent of a lattice volume. As discussed in News & Views, these developments might make it possible to create ordered and tunable 3D nanoscale architectures relevant for photonic and magnetic applications, biomedical sensing, and information or energy storage.