Pengolahan Limbah cair tapioka dengan UASB

November 29, 2007

Amirul Mukminin, Wignyanto dan Nur Hidayat

Abstrak, 2002

Industri tapioka menghasilkan limbah cair dari proses pencucian dan pengendapn yang mengandung bahan organik yg berpotensi sebagai pencemar lingkungan apabila tidak diolah. Salah satu cara pengolahan limbah cair adalah dengan UASB (Up-flow Anaerobic Sludge Blanket) yg memiliki keuntungan tidak membutuhkan energi untuk aerasi, pemanfaatan ruang secara vertikal dan dihasilkan sludge lebih sedikit daripada aerob. Limba yg diolah dimasukkan dari bagian bawah reaktor.

Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan pH influen dan waktu detensi pada UASB agar efluen yang dihasilkan sesuai standar.

Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor yaitu pH influen dan waktu detensi. Analisis dilakukan terhdap pH, COD, BOD, DO dan TSS

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ada interaksi terhadap COD, DO, dan pH effluen. Waktu detensi berbpengaruh nyata terhadap TSS, COD, DO dan pH effluen.

Kadar DO semua perlakuan di bawah 6 mg/l sehingga eflluen masih membutuhkan aerasi untukmemenuhi persyaratan sedang COD, TSS dan pH effluen sudah memenuhi untuk dibuang jika pH influen 4,73 dengan waktu detensi 12 jam.

sumber gambar http://www.fao.org/docrep/w7241e/w7241e0v.gif


Bioremediasi Selenium

November 18, 2007

Selenium (Se) adalah mikronutrien esensial dan penting untuk nutrisi binatang dan manusia. Namun demikian, dosis Se yang tinggi dapat bersifat toksik. Selenium adalah metaloid yang keberadaannya dalam lima tahap oksidasi dimana spesiasi redoks Se tergantung pada potensial redoks dan pH. Selenat adalah spesies utama dalam lingkungan aerob dari netral hingga alkali sedang selenit dan elemen Se dominan pada kondisi anaerob. Selenium juga dapat berada dalam bentuk volatil sebagai dimetilselenida (DMSe), dimetil diselenida (DMDSe) dan kemungkinan sebagai dimetilselenon, demetil selenisulfida dan metaneseleniol. bentuk oksidasi Se, selenat dan selenit sangat larut dalam air oleh karena itu mudah digunakan dan berpotensi toksik.

Biometilasi Se anorganik oleh mikrobia, tanaman dan binatang adalah jalur penting dalam transformasi senyawa Se toksik menjadi bentuk volatil yang relatif tidak toksik seperti DMSe dan DMSSe. Volatilisasi selenium melalui proses metilasi adalah mekanisme protektif yang digunakannoleh mikroorganisme untuk mengatasi toksisitas dalam lingkungan. proses ini secara permanen memindahkan Se dari tanah dan air yang terkontaminasi pada kondisi aerob dan meminimasi masuknya ke dalam rantai makanan. Mikrobia tanah dan rhizosphere yang diisolasi dari akar tanaman yang ditumbuhkan dalam wetland dengan aliran di permukaan adalah efektif dalam volatilisasi Se. Wetland ini mampu memindahkan Se dari limbah cair sebanyak 89%. Se diakumulasi dalam sel tanaman dan bentuk amobil yang tersedimentasikan dalam wetland. Tanaman menediakan sumber C dan nutrien lainnya untuk mikrobia dalam rhizosphere ini terjadi melalui eksudasi akar dan dekomposisi tanaman.


Mikrobiologi Tape Biji Teratai

November 15, 2007

Rita Khairina dan Iin Khusnul Khotimah

Jur. Peng. hasil Perikanan Fak. Perikanan Univ. Lambung Mangkurat.

Abstrak dari PIT PERMI 2007.

Teratai salah satu jenis tanaman air yang banyak tumbuh di perairan rawa Kalimantan Selatan. Tanaman ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sumber kaebohidrat yaitu dari bagian biji dan umbinya. Biji teratai dapat dijadikan tepung untuk diolah menjadi berbagai jenis kue dan makanan lainnya salah satunya menjadi tape.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan biji teratai sebagai bahan dasar pembuatan tape dan mempelajari sifat-sifat mikrobiologisnya. Pengamatan dilakukan terhadap total bakteri, total yeast dan total bakteri asam laktat. Perlakuan yang diberikan adalah persentase beras ketan dan jenis ragi yang digunakan kemudian diamati setiap hari selama 3 hari fermentasi. Dipilih dua jenis ragi yaitu NKL dari Solo dan ragi tradisional dari pasar Martapura. Jumlah beras ketan yang digunakan: 30% dan 40%.

hasil penelitian menunjukkan peningkatan jumlah pada ketiga jenis mikrobia yang diamati. total bakteri berkisar antara 10^5 – 10^6 pada hari ke nol menjadi 10^6 – 10^7 pada hari ketiga. Total yeast  naik dari 10$ menjadi 10^6 dan total BAL dari 10^4 menjadi 10^5.

Terdapat perbedaan rasa yang sangat nyata antara tape yang menggunakan ragi NKL dan tradisional. tape dengan ragi tradisional lebih manis. Perlakuan penambahan beras ketan tidak berpengaruh nyata


Keracunan Pangan

November 14, 2007

Keracunan makanan saat ini masih saja sering terjadi terutama dalam pengolahan makanan untuk keperluan banyak orang baik pada catering yang sudah cukup besar ataupun oleh catering kecil apda saat hajatan. Maslah keracunan yang paling sering dialami adalah oleh adanya bakteri terutama pada produk ikan dan daging. bakteri-bakteri yang perlu diwaspadai adalah: E. coli, Salmonella, Vibrio dan Listeria.

E. coli adalah kontaminan utama, pertumbuhannya difasilitasi oleh iklim tropis yang panas dan lembab. Kontaminasi dapat berasal dari pekerja dan kurang saadarnya konsumen akan pentingnya cuci tangan. kebanyakan E. coli  tidak patogen namun bagi yang sensitif dapat menyebabkan diare, mual dan muntah-muntah serta demam dan kram perut.

Salmonella dapat berasal dari pekerja yang sakit ataupun kontaminan dari luar seperti kotoran ternak dsb. Salmonella  banyak terdapat dalam saluran pencernaan hewan dan dapat dieliminasi dengan pemanasan. Sebaiknya pekerja yang terserang tifus dilarang untuk memasuki ruang pengolahan.

Vibrio secara alami ditemukan di lingnkungan perairan. Spesies yang paling berbahaya adalah V. parahaemolyticus, yang apalibila terinfeksi akan diikuti oleh gejala-gejala seperti sakit kepala, muntah-muntah dan diare.

Listeria banyak mengkontaminasi udang yang paling berbahaya adalah L. monocytogenes. Bakteri ini banyak menyebabkan masalaah di Eropa dan Amerika Serikat. Bakteri ini bersifat psikrofil mampu membentuk biofilm. Listeriosis dapat menyebabkan keguguran pada wanita hamil dan kematian pada individu yang lemah sistem pertahanan tubuhnya.


Pembuatan Brem Padat Aneka Rasa

November 13, 2007

Meigia Hapsari, Nur Hidayat dan M. Hindun Pulungan

Penelitian Jur Teknologi Industri pertanian FTP UB. 2004

Brem padat merupakan makanan tradisional dari hasil pemekatan dan pengeringan cairan tapai ketan. Bahan baku yang umumnya digunakan dalam pembuatan brem padat adalah beras ketan putih. Hal ini akan meningkatkan permintaan terhadap ketan putih, sedangkan persediaan terbatas, padahal kebutuhan serealia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk. Data produksi beras ketan putih di Jawa Timur menunjukkan adanya adanya penurunan angka dari 331.900 ton pada tahun 2000 menjadi 304.664 ton pada tahun 2001. Dengan demikian, perlu dicari alternatif pembuatan brem padat dengan bahan baku lain, namun kualitas yang dihasilkan tetap tinggi.  Ketan hitam merupakan salah satu bahan baku yang sangat potensial sebagai bahan pengganti dalam pembuatan brem padat, karena mempunyai kandungan pati mirip dengan ketan putih.  Produk brem padat selama ini belum mengalami perkembangan yang berarti, baik dari rasa, bentuk maupun kemasan, sehingga pengembangan produk brem padat dirasakan perlu.  Pengembangan produk brem padat dapat dilakukan dengan membuat brem padat aneka rasa, apalagi pengembangan produk pangan berbagai rasa saat ini sedang menjadi trend. Pembuatan brem padat aneka rasa dapat dilakukan dengan menambahkan flavor buah. Diharapkan brem padat aneka rasa ini dapat memberikan alternatif pilihan kepada konsumen yang kurang menyukai rasa brem padat yang berasa sedikit asam dan terasa alkoholnya           

Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan kualitas brem padat (fisik, kimia dan organoleptik) yang baik pada berbagai proporsi air tapai (ketan hitam : ketan putih), serta berbagai flavor, da8n juga mengetahui perhitungan analisa finansialnya (Break Event Point dan Payback Period). Manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai kualitas produk brem padat dan analisis finansialnya dengan penambahan air tapai ketan hitam dan penambahan flavor, dan dapat meningkatkan pemanfaatan beras ketan hitam pada industri pangan.  Hipotesa yang diajukan adalah diduga proporsi air tapai (ketan hitam dan ketan putih) dan penambahan flavor mempengaruhi kualitas fisik, kimia dan organoleptik dari brem padat.           

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) fakorial dengan 2 faktor.  Faktor I (K) adalah proporsi air tapai (ketan hitam : ketan putih) terdiri dari 3 level yaitu  40%: 60%, 50% : 50%, 60% : 40%. Faktor II (F) adalah penambahan flavor, yaitu flavor  strawberry, leci dan moka.  Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa proporsi air tapai berpengaruh nyata terhadap kadar air, rendemen, daya patah, total asam, tekstur,  dan laju kelarutan, penambahan flavor tidak berpengaruh nyata dan tidak ada interaksi antar keduanya..           

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik K1F3 (K= 40%:60%, F=Flavor moka). Perlakuan terbaik ini memiliki kadar air 16,8045 %, total asam 0,7298, tekstur 0,0074 mm / g dt, laju kelarutan 1,162 mg/dt, daya patah 121,433 N/m dan rendemen 34,2048 %. Tingkat kesukaan panelis untuk rasa 3,88 (suka), warna 3,76 (suka), tekstur 3,68(suka) dan aroma 3,48 (netral).           

Analisis finansial yang dilakukan terhadap alternatif terabaik menghasilkan harga pokok penjualan Rp. 1.265/ kemasan dan dijual dengan harga Rp. 1.800/ kemasan.  BEP dicapai pada 20.735 unit atau Rp. 37.323.341,87 dan PP 2 tahun 3 bulan 4 hari, sehingga industri brem padat aneka rasa skala rumah tangga layak untuk diusahakan