Prof. Amin Subandrio menjadi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

Kami mengucapkan Selamat atas pelantikan Prof. Amin Subandrio menjadi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang baru.
Semoga Prof Amin sukses mengemban amanah ini dan membawa LBM Eijkman lebih maju lagi.

Kami turut bangga karena Prof Amin adalah tokoh PERMI sejak lama dan saat ini beliau adalah salah satu Dewan Penasehat Pengurus Pusat Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, 2014-2017.

ASEAN – US Science and Technology Fellows Pilot Program

Yth Bapak/Ibu,

Komite Kerjasama Iptek ASEAN (ASEAN COST) bekerjasama dengan Perwakilan Tetap Amerika Serikat untuk ASEAN (US Mission to ASEAN)  meluncurkan program ASEAN – US Science and Technology Fellows Pilot Program.

Program ini semacam kegiatan magang oleh peneliti dari kalangan luar pemerintahan untuk bekerja (magang) di lembaga pemerintah  yang menangani kebijakan Iptek di negara mereka sendiri (untuk Indonesia:  Kementerian Riset dan Teknologi).

Program ini  berlangsung selama 1 (satu) tahun dimulai sejak tanggal 31 Maret 2014, dan hanya terbuka bagi 1 (orang) untuk setiap negara ASEAN. Kriteria calon adalah  peneliti atau akademisi bergelar Dr. (PhD) dalam salah satu bidang berikut;  health, climate change, food security, early warning system for disaster risk reduction,  water management, dan  biodiversity. Umur peserta  harus kurang dari 45 tahun  pada tanggal 6 Januari 2014.

Pemerintah Amerika Serikat akan  menyediakan tunjangan sebesar USD 1,500 /bulan  ditambah dengan biaya perjalanan (travel allowance) untuk calon yang terpilih.

Informasi selengkapnya dapat dilihat pada: http://www.ristek.go.id/?module=File&frame=Pengumuman/2013/asean_us_fellowship/asean_us_fellowship.html

Mohon bantuan bapak/ibu, untuk menginformasikannya kepada asosiasi yang bapak/ibu pimpin

Salam,

Budidaya jamur Tiram di Palembang

ang muda yang PENGUSAHA , Berawal dari coba coba sambilan untuk biaya kulia sekarang omset jamur tiram saya berkisar 5jt sampe 6jt perbulan,
Jangan takut gagal kami siap untuk membantu , kami menyiapkan bibit jamur tiram, Media jamur tiram, Jamur tiram Segar ‘silahkan kunjungi ke tempat usaha kami
No hp :07117083640
alamat : jalan sukarela km.7 Rt/rw : 12 / 04 no 661 palembang 30152

085788684274 pin bb ; 2a9b038f
BUDI DAYA JAMUR TIRAM
Yang muda yang PENGUSAHA , Berawal dari coba coba sambilan untuk biaya kulia sekarang omset jamur tiram saya berkisar 5jt sampe 6jt perbulan,
Jangan takut gagal kami siap untuk membantu , kami menyiapkan bibit jamur tiram, Media jamur tiram, Jamur tiram Segar ‘silahkan kunjungi ke tempat usaha kami
No hp :07117083640
alamat : jalan sukarela km.7 Rt/rw : 12 / 04 no 661 palembang 30152

085788684274 pin bb ; 2a9b038f

Pelatihan jamur tiran di Jambu Semarang

Mencari peluang usaha setelah lebaran.
Mari bergabung dengan kami di usaha jamur kuping dan jamur tiram.
Kami menyediakan paket:
1.Pelatihan pembuatan baglog
2.Pelatihan budidaya
3.Penjualan baglog.f2.f3
4.Aneka obat dan peralatan budidaya
5.Pembuatan kumbung jamur.
6.Penjualan jamur kuping dan tiram
Info dan contact person
Rohmadi
Hp.081927226571
085742186640
Kampung wisata jamur sodong
Dsn sodong rt 01/06 ds genting.kec jambu
Kab semarang,jawa tengah

Aeromonas hydrophila

Nur Hidayat

Bakteri ini tersebar secara luas di alam terutama air. Dalam makanan bakteri ini dapat di jumpai pada susu segar, keju, ice cream, daging, ayam, sayuran, ikan, udang dan hasil laut lainnya. Aeromonas hydrophila bersifat anaerob fakultatif, batang, gram negative, motil dengan flagella polar. Kisaran suhu pertumbuhan adalah 4 – 50C sampai dengan 42 – 430C dengan suhu optimum 280C. kisaran pH 4,5 – 9,0.  Merupakan bakteri pathogen pada ikan, kura-kura, katak, buaya dan manusia. Bakteri ini menyebabkan gastroenteritis pda manusia. Bakteri ini mampu membentuk hemolysin, enterotoksin dan cytotoxin. Nilai D480C adalah 5,2 menit pada larutan garam dan 4,3 menit pada susu segar dengan nilai z 6,210C.

Dari strain-strain A. hydrophila yang berhasil diisolasi dari lingkungan dan manusia menunjukkan bahwa sebagian besar mengindikasikan enterotoxin. Pada awalnya strain toxigenic hanya sedikit namun terus tumbuh ketika masuk dalam pencernaan. Perbandingan jumlah strain yang toksigenik dan nontoksigenik akan terus berubah sesuai kerentanan penderita. Jumlah minimal strain toksigenik untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik adalah 1000 bakteri/mL. Namun demikian yang harus diwaspadai adalah toksin yang dihasilkan akan tetap menyebabkan sakit meski tanpada adanya sel yang hidup. Untuk menginaktifkan toksin ini maka diperlukan pemanasan setidaknya 600C selama 20 menit atau 650C selama 10 menit.

Pustaka

Annapurnaand. E and S. C. Sanya. 1977. Enterotoxicity Of Aeromonas hydrophila. J. Med. Microbiol. 10: 317 – 323.

Davidson, P.M. 2003. Foodborne Diseases in the United States. In Food Plant sanitation (Hui, et.al eds). Marcel Dekker, Inc. New York.

Biopestisida

Kapang entomopatogenik merupakan pathogen paling umum terkait dengan tungau laba-laba dan telah teruji secara laboratories. Oleh sebab itu penggunaan biopestisida ini guna melawan Tetranychus urticae menggantikan pestisida sibtetik acaricida perlu dikembangkan dengan lebih baik. Pada percobaan rumah kaca maka aplikasi penyemprotan dengan Beuaveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Leuxanicilium lecanii telah mampu menurunkan jumlah T. articeae  pada tanaman tomat. Dikethui pula bahwa Naturalis-L (B. bassiana) juga kompatibel denganpredator tungau seperti Phytoseiulus persimilis. Kerentanan inang terhadap kapang pathogen ini dipengaruhi oleh factor-faktor lingkungan. Suhu merupakan salah satu factor yang mempengaruhi virulensi isolate kapang.

Guna membuat biopestisida maka kapang ini harus ditumbuhkan pada medium Sabouraud dextrose agar (SDA) dalam cawan petri dengan waktu 3 minggu pada suhu 26 + 20C. Konidia di permukaan dipanen dengan cara mengikisnya kemudian disuspensikan dalam 20 mL aquades steril yang mengandung Triton X-100. Suspensi konidia  kemudian divortex selama 5 menit untuk menghasilkan suspense konidia yang homogeny. Sebelum digunakan dilakukan pengujian viabilitasnya dengan cara suspensi konidia (3 X 106 konidia/mL) ditumbuhkan pada gelas obyek yang mengandung SDA secara spread-plating, kemudian ditutup dengan gelas penutup dan diinkubasi pada 26 + 20C selama 24 jam. Persentase perkecambahan dengan menghitung 100 spora per gelas obyek.

Hasil pengujian viabilitas menunjukkan bahwa kemampuan spora berkecambah sebesar 81 – 96%. Uji patogenisitas menunjukkan bahwa pada suhu 260C kapang ini bersifat pathogen apda T. urticae dewasa dan menyebabkan kematian sebesar 95 – 99 %. Tingkat virulensi juga meningkat dengan meningkatnya suhu.

sumber:

Bugeme, D,M., M. Knapp., H.I. Boga.,  A.K. Wanjoya and N.K. Maniania. 2009.  Influence of Temperature on Virulence of Fungal Isolates of Metarhizium anisopliae and Beauveria bassiana to the Two-Spotted Spider Mite Tetranychus urticae Mycopathologia 167:221–227

Tempe dan Vitamin B12, haruskah dari Klebsiella pneumonia?

Nur Hidayat

Tempe merupakan makanan dari kedelai yang digemari oleh masyarakat di Indonesia bahkan juga di seluruh dunia. Tempe sebagai makanan fermentasi selalu mendapat perhatian terutama dengan kemungkinan adanya kontaminan dan pertumbuhan mikroorganisme atau hasil aktivitas mikroorganisme yang tidak diinginkan sehingga dapat membahayakan bagi yang mengkonsumsinya.

Pada proses pembuatan tempe terdapat tahap-tahap yang dimungkinakan tumbuhnya mikroorganisme yaitu sat perendaman, inokulasi dan inkubasi. Mikroorganisme yang paling berperan dalam pembuatan tempe dalah jamur Rhizopus sp yang menjadikan tempe berbentuk kompak.

Tempe yang dibuat dari kedelai, tidak mengandung vitamin B12 karena vitamin ini tidak disintesis oleh tanaman dan dihasilkan oleh beberapa mikrorganisme termasuk beberapa spesies bakteri. Beberapa penelitian yang banyak dikaji selama ini adalah dihasilkannya vitamin B12 oleh Klebsiella pneumonia yang merupakan bakteri pathogen. Oleh sebab itu produksi vitamin B12 oleh bakteri non pathogen perlu diketahui sehingga kekhawatiran dari bahaya mengkonsumsi tempe dapat dikurangi ataupun dihilangkan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mo dkk (2013) menunjukkan bahwa Proses pembuatan tempe menggunakan perendaman alami tidak dihasilkan vitamin B12 selama perendaman namun dihasilkan pada saat fermentasi dan masih tetap ada setelah pemasakan. Hasil ini sama untuk tempeyang diinokulasi dengan isolate murni jamur maupun kultur campuran (usar dari Semarang). Penambahan asam dari bakteri Lactobacillus plantarum  pada proses perendaman juga menghasilkan kesimpulan yang sama yaitu vitamin B12 tidak dijumpai pada kedelai hasil rendaman dan ada setelah fermentasi 24 jam. Jadi ada tidaknya penambahan bakteri ternyata tidak menghasilkan vitamin B12 pada kedelai hasil rendaman. Beberapa bakteri diketahui mampu menghasilkan vitamin B12 termasuk dari Enterobacter. Oleh sebab itu perlu diteliti lebih medalam bagaimana proses fermentasi jamur dapat membentuk vitamin B12 padahal diketahui bahwa jamur tidak mampu menghasilkan vitamin tersebut.

Mungkin perlu diteliti persatuan waktu selama fermentasi tempe antara kadar vitamin B12 dan macam bakteri yang ada.

Pustaka

Haizhen Mo, Susanna Kariluoto, Vieno Piironen, Yang Zhu, Mark G. Sanders, Jean-Paul Vincken, Judith Wolkers-Rooijackers, and M.J. Rob Nout. Effect of soybean processing on content and bioaccessibility of folate, vitamin B12 and isoflavones in tofu and tempe. Food Chemistry 141 (2013) 2418–2425.