Rapat Permi Bulan Februari

Februari 3, 2010

Salam PERMI
bersama ini kami mengundang bapak ibu seluruh anggota permi atau
perwakilan tiap jurusan (diusahakan ada) untuk hadir pada:
Hari/tanggal: Jum’at 5 Februari 2010
Waktu: jam 13.30 wib
Tempat: Laboratorium Mikrobiologi FK UB lantai 2
Acara
1. Laporan kongres PERMI di Surabaya
2. Pembagian Jurnal edisi Desember 2009
3. Iuran anggota tahun 2010
4. usulan2 untuk pengurus pusat permi
5. lain-lain
dimohon dengan sangat kehadirannya.
terima kasih
salam
an, ketua
sekretaris
Nur Hidayat

nb

bagi yang ingin menjadi anggota silahkan hadir dan mengisi formulir pendaftaran


Khamir Laut Sebagai pengganti Kedelai dalam Industri Pakan

Januari 28, 2010

26 Januari 2010
Salah satu komponen pendukung yang penting dalam industri perikanan budidaya adalah ketersediaan pakan yang menyerap sekitar 55-60 persen dari keseluruhan biaya kegiatan budidaya perikanan. Dalam pakan, peran protein sangatlah penting. Salah satu komponen penyedia protein yang telah dikenal adalah kedelai (sumber protein nabati) dan tepung ikan (sumber protein hewani). Penggunaan kedelai sebagai bahan pakan berkompetisi dengan kebutuhannya sebagai bahan pangan dalam pembuatan tahu, tempe, dll. Sementara penggunaan tepung ikan akan menguras sumberdaya ikan yang tersedia yang layak digunakan sebagai konsumsi pangan manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan upaya untuk mencari alternatif sumber protein lainnya yang tidak berkompetisi dengan kebutuhan sebagai bahan pangan. Hal ini menjadi latar belakang Prof. Ir. Sukoso, MSc, PhD dalam menyusun pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK-UB). Dalam rapat Senat Terbuka yang akan diselenggarakan Rabu (27/1) ia menyampaikan pidato pengukuhannya yang bertajuk “Khamir Laut Sebagai Pengganti Kedelai Dalam Industri Pakan (Suatu Pengembangan Bioteknologi Kelautan)”.
Khamir Laut
Selama lebih dari sepuluh tahun Prof. Sukoso telah meneliti penggunaan khamir laut sebagai bahan alternatif pengganti atau substitusi kedelai dan tepung ikan dalam pembuatan pakan. Khamir Laut (marine yeast) atau lebih dikenal dengan ragi laut merupakan mikroorganisme yang diisolasi dari laut lalu dikembangkan untuk menghasilkan massa sel. Proses kultur khamir laut, menurut lulusan terbaik Program Master Kagoshima University Jepang ini dapat dimulai dengan mengisolasi mikroorganisme tersebut dari laut untuk kemudian ditumbuhkan dalam media. Media ini dapat berupa air laut yang telah diperkaya nutrisi, yang ditempatkan dalam sebuah galon plastik pada suhu kamar. Dari pengalaman selama ini, menurutnya sebanyak 20 galon plastik dalam satu minggu akan mampu menghasilkan satu kg berat basah massa sel khamir laut. “Pertumbuhan sel yang cepat dalam wadah sederhana dengan teknologi pembiakan sederhana dan dapat dilakukan dalam ruang yang sangat efisien merupakan keunggulan dari pengembangan produk ini”, ungkap Sukoso.
Dari hasil analisa yang telah dilakukannya, ternyata mikroorganisme ini juga memiliki kandungan nutrisi yang sangat menjanjikan sebagai bahan alternatif kedelai dan tepung ikan dalam industri pakan ikan dan ternak lainnya. Dengan kandungan protein sekitar 28 pesen, khamir berpotensi sebagai sumber protein, yang berfungsi sebagai zat pembangun karena asam amino yang dikandungnya. “Sejumlah asam amino esensial yang mutlak dibutuhkan makhluk hidup disediakan oleh khamir laut. Terhadap asam amino ini ikan tidak dapat mensintesanya sendiri sehingga harus disediakan oleh pakan”, ungkap dia. Beberapa asam amino, tersebut, dirinci Sukoso meliputi methionine, arginine, tryptophan, threonine, histidine, leucine, lysine, phenylalanine dan valine.
Selain protein, khamir laut terbukti juga mengandung asam lemak esensial yang berperan penting sebagai sumber energi. Selain itu, beberapa fungsi lain asam lemak ini adalah mempertinggi penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, menyediakan prekursor untuk hormon steroid, memberi aroma pada ikan, serta menjaga tubuh ikan agar tetap terapung dalam air.
Dengan kekayaan kandungan yang dimilikinya, khamir laut menurut Sukoso dapat dimanfaatkan juga sebagai pakan ternak meskipun membutuhkan penelitian lebih lanjut. Pada beberapa komoditas ternak seperti sapi, terbukti khamir mampu meningkatkan berat badan dan produksi susu. Sementara pada unggas, khamir laut juga mampu meningkatkan produksi telur disamping konsumsi pakan dan efisiensinya.
Manfaat lain yang saat ini tengah dikembangkan adalah sebagai immunostimulan, yaitu sebagai zat imunostimulator yang meningkatkan daya resisten terhadap infeksi penyakit, bukan dengan meningkatkan respon imun didapat (acquired immune respon), tapi dengan meningkatkan respon imun non-spesifik baik melalui mekanisme pertahanan hormonal maupun selular. Dengan kandungan bheta-glucan yang dimiliki maka khamir laut sebagai immunostimulan mampu meningkatkan aktivitas leukosit disamping menjadi mediator imun seperti interleukin dan faktor nekrosis tumor. Dengan teknologi mutakhir, saat ini khamir laut juga telah dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan seperti bioremediasi dalam bidang teknologi lingkungan; obat, vaksin, hormon dan probiotik dalam industri kesehatan; starter untuk menghasilkan bir dan bioethanol dalam industri fermentasi serta penghasil enzim, penyedap rasa, pigmen dan pereduksi kimia dalam industri makanan berbahan kimia.
Skala lab
Dengan skala laboratorium, saat ini Sukoso telah menghasilkan isolasi khamir laut yang diberi nama YUB2009, kepanjangan dari Yeast Universitas Brawijaya 2009. Dalam penelitian ini, Sukoso mengaku mendapatkan mikroorganisme khamir laut di sekitar perairan Pulau Jawa. Dalam pengamatannya selama ini diketahui juga bahwa pemanfaatan pakan dengan substitusi khamir laut mendapat respon bagus, diantaranya pada budidaya ikan kerapu.
Dengan memanfaatkan produk ini sebagai substitusi pakan sekitar 10 persen saja, menurutnya akan menghasilkan keuntungan sekitar Rp. 2.4 T per tahun dengan asumsi harga khamir laut sekitar Rp 2000 dan kedelai Rp. 7500.  Hanya saja, sebagai mikroorganisme mikroskopik, produk ini memerlukan perawatan serius agar tidak terkontaminasi mikroorganisme lain dalam kulturnya. [nok]


Penggunaan bakteriosin untuk mempertahankan kesegaran daging ayam

Januari 25, 2010

Oleh : Sri Usmiati

Pendahuluan

Terjaminnya mutu dan keamanan daging ayam memegang peranan penting untuk keselamatan dan kesehatan konsumen. Mata rantai teknis operasional dan pengelolaan berpengaruh terhadap mutu daging yang dihasilkan. Kontaminan mikrobiologis merupakan salah satu penyebab berkurangnya mutu daging ayam bahkan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi (Media Indonesia, 2005).Kontaminasi mikroba patogen atau pembusuk menyebabkan degradasi protein yaitu proses pemecahan protein menjadi molekul-molekul sederhana seperti asam amino yang menyebabkan sel-sel daging menjadi rusak/busuk.

Saat ini sedang marak adanya penggunaan bahan kimia formalin untuk pengawet daging yang bertujuan untuk mempertahankan kesegaran daging ayam yang sebenarnya hanya tampak secara fisik dari luar. Pada dasarnya proses pembusukan dalam daging tetap berlangsung mengingat terjadinya degradasi protein secara alamiah selama penyimpanan. Salah satu alternatif untuk mempertahankan kesegaran daging ayam secara aman adalah dengan penggunaan biopreservatif diantaranya bakteriosin yang dapat disintesis oleh bakteri asam laktat (BAL) yang cukup banyak di Indonesia. Tersedianya bakteriosin diharapkan menjadi solusi agar pengawet kimia yang berbahaya bagi kesehatan konsumen tidak digunakan lagi. Selain itu dengan merebaknya kasus flu burung penggunaan bakteriosin diharapkan dapat menghindari penularan penyakit tersebut dari unggas hidup kepada manusia dalam wilayah tertentu. Daging ayam dalam bentuk karkas yang dilindungi oleh bakteriosin dapat tetap segar dalam waktu cukup panjang selama beredar di pasar (distribusi).

Bakteri penyebab kebusukan dan kerusakan daging

Keberadaan kontaminan mikroba Eschericia coli, Salmonella sp. dan Listeria sp pada daging sangat dimungkinkan karena sifat fisikokimia daging seperti water activity (aw), pH dan zat gizi mendukung pertumbuhan mikroba tersebut (Hugas, 1998). Keberadaan mikroba patogen dan pembusuk tersebut dapat menyebabkan penyakit dan bahkan kematian.

Strain patogen E.coli dapat menimbulkan penyakit diare berdarah, pembengkakan dan kelainan ginjal, demam, kelainan syaraf dan bahkan kematian (Veclerc et al., 2002). Di Amerika, dalam setahun diperkirakan terdapat 110.220 kasus infeksi akibat E.coli (STEC), 158.840 kasus infeksi E.coli (ETEC) dan diarrheogenic E. coli (Mead et al., dalam Scroeder et al., 2004). Escherichia coli dapat dijumpai pada daging masak yang terkontaminasi dengan daging mentah (Veclerc et al., 2002).

Salmonella sp. selain sebagai bakteri patogen juga pembusuk (Okolocha and Ellerbroek, 2005) sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius (Deumier and Collignan, 2003). Salah satu strain Salmonella yang terdapat pada daging yaitu Salmonella typhimurnium (Budde et al., 2003). Salmonella dapat menyebabkan gastroenteritis, demam enteric (thypoid dan parathypoid), septicemia (mikroorganisme berkembangbiak dalam aliran darah), diare, nausea dan muntah. Daging ayam dan olahannya dilaporkan sebagai media penyebaran penyakit salmonellosis.

Listeria monocytogenes merupakan bakteri patogen penyebab wabah listeriosis (food borne disease) yang banyak terdapat pada daging dan produk mentah serta mampu bertahan pada suhu rendah. Kasus infeksi L.monocytogenes dilaporkan terdapat 228 kasus di Perancis tahun 1997 dan 2002, yaitu pasien sebanyak 63% bacteriemia dan 26% bermasalah dengan sistem syaraf (Veclerc et al., 2002).

Peningkatkan mutu dan keamanan daging dapat ditempuh dengan menurunkan jumlah mikroba patogen dan pembusuk secara biopreservasi (pengawetan alami) menggunakan bakteriosin (Hugas, 1998; Sullivan et al., 2002; Deegan et al., 2006). Biopreservasi menarik perhatian karena potensial untuk diaplikasikan dalam pengawetan pangan (Ammor et al., 2006) yaitu dengan mengontrol bakteri pembusuk dan patogen secara alami (Mataragas, 2003). Dengan biopreservasi maka waktu penyimpanan produk pangan dapat diperpanjang dan keamanan pangan dapat meningkat (Stiles dalam Hugas, 1998). Pemakaian bakteriosin komersial seperti Nisin sebagai biopreservatif sudah dilakukan di beberapa negara yang diaplikasikan pada beberapa jenis makanan dengan dosis yang bervariasi, bahkan beberapa negara tidak membatasi dosis.

Sifat-sifat bakteriosin

Bakteriosin memiliki sifat mudah didegradasi enzim proteolitik dan mampu menghambat pertumbuhan mikroba yang secara filogenik dekat dengan bakteri penghasil bakteriosin (Jack et al., 1995). Tagg et al. (1976) mengemukakan beberapa kriteria bakteriosin yaitu berupa protein, bersifat bakterisidal, bakteri target memiliki sifat pengikatan spesifik (specific binding site), gen pengkode bakteriosin ada dalam plasmid, aktif terhadap bakteri yang dekat secara filogenik. Syarat bakteriosin adalah sebagai protein dan tidak membunuh bakteri penghasilnya. Bakteriosin yang dihasilkan oleh beberapa galur BAL diketahui mempunyai aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan patogen makanan sehingga dapat meningkatkan keamanan dan daya simpan pangan.

Bakteriosin biasanya tahan terhadap panas, dan aktivitasnya masih tetap ada dalam lingkungan asam misalnya pada suhu 100˚C atau 121˚C selama 15 menit (Bhunia et al., 1988 dalam Ogunbawo, 2003), demikian pula suhu yang sangat rendah dalam penyimpanan tidak mempengaruhi aktivitas bakteriosin. Umumnya bakteriosin sensitif terhadap protease.

Bakteriosin sebagai biopreservatif pangan harus memenuhi kriteria seperti pengawet atau bahan tambahan makanan lainnya antara lain aman bagi konsumen, memiliki aktivitas bakterisidal terhadap kelompok bakteri Gram positif dalam sistem makanan, stabil, terdistribusi secara merata dalam sistem makanan, dan ekonomis (Ray, 1996). Beberapa bakteriosin yang dihasilkan oleh BAL telah diuji sebagai pengawet dalam berbagai produk makanan. Bakteriosin tersebut diproduksi oleh Lactoccus, Lactobacillus dan Pediococcus yang berasal dari berbagai bahan makanan. Nisin adalah bakteriosin polipeptida yang diproduksi oleh Lactococcus lactis dan telah dikenal aman untuk mengontrol bakteri patogen dan pembusuk makanan.

Sintesis bakteriosin dari bakteri asam laktat

Bakteriosin diproduksi oleh bakteri asam laktat (BAL), didefinisikan sebagai protein yang aktif secara biologi atau kompleks protein (agregat protein, protein lipokarbohidrat, glikoprotein) yang disintesa secara ribosomal, dan menunjukkan aktivitas antibakteri (Vuyst and Vandamme, 1994). Bakteriosin efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri patogen dan pembusuk (Sullivan et al., 2002) dan penyebab penyakit yang ditularkan melalui makanan. Bakteriosin dari BAL lebih bersifat bakterisidal dibandingkan dengan bakteriolisis ataupun bakteriostatik pada sel-sel yang sensitif (Gonzales et al., 1996). Beberapa diantaranya lebih dominan bersifat bakteriostatik (Liao et al., dalam Rahayu, 2000).

Bakteriosin disintesis selama fase eksponensial pertumbuhan sel mengikuti pola klasik sintesis protein. Sistem ini diatur oleh plasmid DNA ekstra kromosomal dan dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama pH. Umumnya bakteriosin disintesis melalui jalur ribosomal (Engelke et al. 1992), sedangkan kelompok lantibiotik disintesis secara ribosomal sebagai prepeptida kemudian mengalami modifikasi. Sekresi prepeptida dilakukan pada fase eksponensial dan diproduksi secara maksimal pada fase stasioner. Prinsip regulasi sintesis bakteriosin diatur oleh adanya gen pengkode produksi dan pengkode immunitas.

Beberapa BAL diketahui menghasilkan bakteriosin dengan spektrum antibakteri yang luas melawan bakteri Gram positif sehingga potensial digunakan sebagai biopreservatif makanan (Ray, 1996). Bakteriosin dari Lactobacillus brevis dapat menghambat pertumbuhan bakteri E.coli, S.typhimurnium dan L.monocytogenes (Ogunbanwo et al., 2003), demikian juga bakteriosin dari Leuconostoc (Budde et al., 2003). Bakteriosin dari Lactobacillus sakei dan Lactobacillus plantarum mampu menghambat pertumbuhan bakteri L.monocytogenes yang terdapat pada daging masak (Vermeiren et al., 2004). Todorov and Dicks (2005) melaporkan bahwa bakteriosin dari Lactobacillus plantarum mampu menghambat pertumbuhan E. coli.

Sejumlah BAL yang ditumbuhkan pada media kompleks semi sintetis seperti MRS (deMann Rogosa Sharpe) dapat menghasilkan populasi sel bakteri yang tinggi dan bakteriosin yang relatif banyak (Olivera et al., 2004). Media komersial mengandung protein tinggi seperti tripton, pepton, ekstrak daging, dan ekstrak khamir yang akan tersisa karena tidak dikonsumsi oleh bakteri (Vazquez et al., 2006). Harga media tersebut mahal sehingga tidak ekonomis untuk produksi bakteriosin. Oleh karena itu perlu ada formula media produksi bakteriosin yang lebih murah (Vazquez et al., 2006). Penggunaan beberapa limbah industri pangan sebagai basis media pertumbuhan kultur tampaknya lebih ekonomis, misalnya whey dari limbah pembuatan keju (Olivera et al., 2004), jus jaitun (Leal et al., 1998), jerohan ikan (Vazquez et al., 2006).

Produksi bakteriosin umumnya dilakukan dalam kultur substrat cair. Berbagai faktor dapat mempengaruhi produksi bakteriosin dalam media tersebut. Aktivitas produksi bakteriosin oleh BAL dipengaruhi oleh faktor pH, suhu, sumber karbon, serta fase pertumbuhan. Jenis sumber karbon maupun sumber nitrogen yang digunakan dalam medium produksi mempengaruhi laju pertumbuhan sel BAL, selanjutnya berpengaruh terhadap metabolisme produksi bakteriosin, selain itu tingkat salinitas medium produksi seperti kandungan garam dari media turut mempengaruhi metabolisme produksi bakteriosin. Secara umum kondisi optimum produksi bakteriosin selain dipengaruhi oleh fase pertumbuhan, pH media, suhu inkubasi, jenis sumber karbon dan sumber nitrogen juga konsentrasi NaCl (Kim, 1990).

Kinerja bakteriosin dalam aktivitas penghambatan

Target kerja bakteriosin dari bakteri asam laktat adalah membran sitoplasma sel bakteri yang sensitif (Gonzales et al., 1996). De Vuyst dan Vandam (1994) menyebutkan bahwa target utama bakteriosin adalah membran sitoplasma sel bakteri karena reaksi awal bakteriosin adalah merusak permeabilitas membran dan menghilangkan proton motive force (PMF) sehingga menghambat produksi energi dan biosintesis protein atau asam nukleat. Aktivitas penghambatan bakteriosin membutuhkan reseptor spesifik permukaan sel, contohnya pada pediocin AcH. Selain itu mengakibatkan terjadinya lisis pada sel. Hal ini adalah efek sekunder dari aktivitas pediocin AcH melalui depolimerisasi lapis peptidoglikan, sehingga secara tidak langung dapat mengaktifkan sistem autolisis sel (Gonzales et al., 1996). Mekanisme aktivitas bakterisidal bakteriosin adalah sebagai berikut: (1) molekul bakteriosin kontak langsung dengan membran sel, (2) proses kontak ini mampu mengganggu potensial membran berupa destabilitas membran sitoplasma sehingga sel menjadi tidak kuat, dan (3) ketidakstabilan membran mampu memberikan dampak pembentukan lubang atau pori pada membran sel melalui proses gangguan terhadap PMF (Proton Motive Force) (Gonzalez et al., 1996). Kebocoran yang terjadi akibat pembentukan lubang pada membran sitoplasma ditunjukkan oleh adanya aktivitas keluar masuknya molekul seluler. Kebocoran ini berdampak pada penurunan gradien pH seluler. Pengaruh pembentukan lubang sitoplasma merupakan dampak adanya bakteriosin yang menyebabkan terjadinya perubahan gradien potensial membran dan pelepasan melekul intraseluler maupun masuknya substansi ekstraseluler (lingkungan). Efeknya menyebabkan pertumbuhan sel terhambat dan menghasilkan proses kematian pada sel yang sensitif terhadap bakteriosin.

Bakteriosin sebagai pengawet alami pada Daging

Daging adalah sebagai semua jaringan hewan dan produk hasil pengolahan jaringan-jaringan yang sesuai untuk dimakan dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang mengkonsumsi (Soeparno, 1998). Daging digolongkan kedalam dua kelompok yaitu kelompok daging yang berasal dari ternak besar (sapi, kerbau, kambing) dan umumnya merupakan daging merah, serta kelompok daging dari ternak kecil (burung, ayam, itik) dan umumnya adalah daging putih.

Daging mengandung zat gizi yang tinggi. Kandungan gizi yang tinggi terutama protein dengan komposisi asam amino yang seimbang hal ini sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Lemak merupakan komponen utama dalam daging. Lemak berfungsi sebagai pembentuk energi dan komposisi lemak terdiri atas gliserol dan asam lemak. Karbohidrat merupakan komponen yang memegang peranan utama di dalam bahan-bahan organik. Kebanyakan karbohidrat di dalam jaringan tubuh hewan terdiri atas polisakarida kompleks dan beberapa diantaranya berkaitan dengan komponen protein serta sulit dipisahkan. Glikogen merupakan karbohidrat yang utama di dalam daging.

Kandungan gizi yang tinggi ini menyebabkan daging mempunyai sifat mudah rusak (perishable) karena mikroba dapat tumbuh dan berkembang biak di dalamnya. Menurut Gill (1986), daging digolongkan sebagai bahan pangan yang mudah rusak karena merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba. Hal ini disebabkan oleh karena kadar air daging termasuk tinggi, kaya akan zat gizi yang mengandung nitrogen, karbohidrat yang dapat difermentasi, kaya akan mineral untuk pertumbuhan mikroba, dan memiliki pH yang baik untuk pertumbuhan mikroba (5,3-6,5) (Soeparno, 1998).

Kualitas daging diantaranya dipengaruhi oleh faktor metode penyimpanan dan preservasi. Daging yang disimpan pada suhu kamar dalam waktu tertentu akan cepat rusak. Kerusakan daging yang berakibat terhadap penurunan mutu daging segar antara lain disebabkan oleh kontaminasi mikroba. Secara internal daging akan terkontaminasi bila tidak didinginkan setelah proses penyembelihan. Jumlah dan jenis mikroba yang mencemari daging ditentukan oleh tingkat pengendalian higienis yang dilaksanakan selama penanganan diawali saat penyembelihan ternak dan pembersihan karkas hingga sampai ke konsumen.

Saat ini, kualitas mikrobiologi daging telah menjadi salah satu perhatian masyarakat dalam hal keamanan pangan. Daging yang sehat seharusnya tidak mengandung mikroba patogen, kalaupun mengandung mikroba non patogen maka jumlahnya harus sedikit. Rozbeh et al. (1993) mengasumsikan bahwa jika kandungan bakteri daging melebihi 106 bakteri/g maka daging tersebut dianggap berkualitas rendah. Menurut Soeparno (1998) batas jumlah mikroba daging selama dilayukan tidak boleh lebih dari 105 bakteri/cm2 daging.

Pertumbuhan mikroba berhubungan erat dengan kualitas daging segar. Peningkatan jumlah mikroba pembusuk/patogen berpengaruh terhadap keamanan dan daya tahan atau masa simpan serta kandungan awal mikroba dalam daging segar (Liesner et al., 1995). Kandungan mikroba awal dalam jumlah sedikit dalam bahan pangan dicapai melalui aplikasi sanitasi yang efektif selama penanganan bahan pangan (Ray, 1992) serta penggunaan biopreservatif yaitu zat untuk pengawetan secara biologi untuk mencegah mikroba patogen/pembusuk. Bakteriosin yang dihasilkan oleh beberapa BAL telah diuji untuk biopreservatif bahan pangan yang potensial (Hsieh and Glatz, 1996). Bakteriosin ini digunakan sebagai bahan pengawet untuk bahan pangan yang memerlukan daya tahan selama proses pengolahan, distribusi dan penyimpnana dalam waktu yang cukup lama. Aplikasi bakteriosin sebagai biopreservatif pada bahan pangan tidak merubah rasa dan tekstur tetapi dapat menghambat pertumbuhan mikroba patogen (Gonzales et al., 1993). Oleh karena itu bakteriosin menjadi perhatian khusus sebagai biopreservatif yang potensial dan aman untuk kesehatan (Holzapfel et al., 1995).

Hasil penelitian peran bakteriosin sebagai biopreservatif pada daging dan produk daging banyak dilaporkan. Bakteriosin dari Pediococcus acidilactic dapat digunakan untuk mengontrol mikroba patogen pada produk daging fermentasi (Foegeding et al., 1992). Menurut Budde et al. (2003), kultur Leuconostoc carnosum 4010 dapat digunakan sebagai biopreservatif daging dan produk olahannya karena menghasilkan bakteriosin yang serupa dengan leucocin A dan B. Bakteriosin yang secara alamiah dihasilkan oleh BAL dalam suatu bahan pangan tidak menghambat pertumbuhan BAL endogenous yang ada dalam bahan pangan tersebut (Vermeiren et al., 2004).

Ammor et al. (2006a) menyatakan bahwa senyawa serupa bakteriosin (bacteriocin-like) dari bakteri Vagococcus carniphilus dan Lactococcus garvieae yang diisolasi dari sosis kering aktif menyerang L.monocytogenes dan Staphylococcus aureus. Antimikrobial ini merupakan senyawa untuk mencegah pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan yang mengkontaminasi peralatan selama pengolahan produk daging. Masih menurut Ammor et al. (2006b), beberapa BAL yang menghasilkan senyawa serupa bakteriosin dapat menekan pertumbuhan mikroba yang tidak diharapkan sehingga merupakan barrier terjadinya kontaminasi dari alat-alat dan lingkungan selama penanganan daging segar.

Penggunaan biopreservatif berhubungan dengan makin maraknya penggunaan pengawet kimia formalin pada daging segar akhir-akhir ini yang membahayakan kesehatan konsumen. Pengawet tersebut digunakan untuk mencegah terjadinya pembusukan oleh bakteri patogen pada bahan pangan terutama yang berkadar air dan gizi tinggi seperti daging. Dengan merebaknya kasus flu burung, maka penggunaan biopreservatif bakteriosin merupakan salah satu alternatif yang aman dan baik dalam mempertahankan kesegaran dan keamanan pangan daging ayam/unggas. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian telah menghasilkan bakteriosin cair yang dapat digunakan sebagai biopreservatif pada daging ayam. Hasil aplikasi bakteriosin cair pada daging ayam menunjukkan bahwa daging ayam dapat dipertahankan kesegarannya selama 18 jam, padahal daging ayam secara normal tanpa pengawet dapat bertahan segar selama 10 jam (bila ditangani relatif bersih) dan 6 jam (bila ditangani tidak bersih).

Penutup

Mutu dan keamanan daging ayam yang terjamin memegang peranan penting untuk keselamatan dan kesehatan konsumen. Mata rantai teknis operasional dan pengelolaan berpengaruh terhadap mutu daging. Kontaminan mikrobiologis merupakan salah satu penyebab berkurangnya mutu daging ayam bahkan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi. Penggunaan pengawet kimia formalin pada daging segar akhir-akhir ini sangat membahayakan kesehatan konsumen. Pengawet tersebut digunakan untuk mencegah terjadinya pembusukan oleh bakteri patogen pada bahan pangan terutama yang berkadar air dan gizi tinggi seperti daging ayam. Penggunaan bakteriosin cair sebagai pengawet alamiah dan untuk mempertahankan kesegaran daging ayam merupakan peluang dalam mengantisipasi penggunaan pengawet kimia (formalin) yang berbahaya bagi kesehatan. Bakteriosin cair ini telah dihasilkan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian dan dapat mempertahankan kesegaran daging ayam selama 18 jam. Bakteriosin cair diproduksi oleh bakteri asam laktat yang tersedia cukup banyak di Indonesia melalui modifikasi media sintesis yang tersedia dengan mudah dan murah, sehingga biaya produksinya dapat ditekan namun menghasilkan kegunaan yang lebih besar untuk mempertahankan kesegaran daging ayam.

sumber: http://pascapanen.litbang.deptan.go.id/index.php/berita/65


Dr. Ing. Evita H. Legowo: “BBN Sebagai Energi Alternatif”

Januari 18, 2010

15 Januari 2010
Guna menuju diversifikasi energi, sesuai dengan UU Energi Nomor 30 tahun 2007, maka penyediaan energi baru dan terbarukan wajib ditingkatkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Oleh karena itu, penyediaan energi dari sumber baru dan terbarukan yang dilakukan oleh badan usaha, bentuk usaha tetap dan perseorangan dapat memperoleh kemudahan dan/atau insentif untuk jangka waktu tertentu hingga tercapai nilai keekonomiannya. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Dr. Evita Herawati Legowo dalam seminar nasional bertajuk “Kebijakan Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain” yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP-UB), Jum’at (15/1). Lebih lanjut disampaikan, pada 2006 tercatat bahwa pemanfaatan energi masih sangat bergantung pada minyak bumi sebesar 51.66 persen disusul gas alam 28.57 persen dengan pemanfaatan energi baru terbarukan masih kurang dari lima persen. Dengan komitmen mengurangi pemanfaatan minyak bumi, maka pada tahun 2025 pemerintah mentargetkan pemanfaatan energi baru terbarukan mencapai 17 persen dengan pemakaian minyak bumi sekitar 20 persen, gas 30 persen dan batubara 33 persen. Diantara berbagai jenis pemanfaatan energi baru terbarukan, Bahan Bakar Nabati (BBN) merupakan salah satu alternatif yang digunakan sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun bahan pencampur. Selain itu, beberapa kelebihan lain yang dimiliki BBN disebutkan Evita adalah ramah lingkungan, menciptakan lapangan kerja, menciptakan ketahanan energi serta berpotensi untuk mengurangi kemiskinan.
BBN
Pengembangan BBN menurut Evita akan diprioritaskan pada berbagai komoditas diluar pangan. Lebih lanjut Teknokrat yang menyelesaikan Doktor Bidang Kimia Minyak Bumi di TU Clausthal Jerman ini memperinci berbagai komoditas yang dapat digunakan diantaranya singkong dan tebu untuk bioethanol serta sawit dan jarak pagar untuk biodiesel. Beberapa komoditas yang saat ini tengah dikembangkan adalah aren, nipah, cantel, microalgae, sampah, dll. Lebih jauh pemerintah RI menurutnya juga telah membuat kebijakan pemanfaatan Bioethanol (substitusi bensin), biodiesel (substitusi solar) dan bio-oil/bio-plantation (sebagai substitusi kerosin dan fuel oil). Mulai Januari 2010 misalnya untuk transportasi Public Service Obligation (PSO), pemerintah RI telah mewajibkan pentahapan pemakaian biodiesel sebesar 2.5 persen. Sementara untuk transportasi non PSO adalah 3 persen serta industri dan komersial sebesar 5 persen. Dalam kurun waktu yang sama pentahapan pemakaian bioethanol memiliki jumlah lebih tinggi yaitu 3 persen untuk transportasi PSO, 7 persen untuk transportasi non PSO serta 7 persen untuk industri dan komersial. “Meskipun begitu kami memiliki pengalaman bahwa implementasi di lapangan selalu lebih sulit daripada sekedar pembuatan kebijakan”, ujarnya. Untuk itu pihaknya telah membuat banyak fasilitas dan insentif untuk pengembangan BBN diantaranya adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 79/PMK.05/2007 tentang Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) serta subsidi BBN sebagai bahan substitusi yang dimasukkan dalam APBNP 2009 dan APBN 2010. Hasilnya sampai saat ini Indonesia memiliki kapasitas terpasang biodiesel yang mencapai 3.6 juta ton/tahun dan 250 ribu ton/tahun untuk bioethanol meskipun realisasi dilapangan menurutnya belum mencapai 10 persen.
Beberapa kendala mendasar implementasi BBN di lapangan menurut Evita adalah masalah harga dimana BBN masih lebih tinggi daripada bahan bakar fosil serta penyediaan bahan baku untuk keperluan energi yang belum dibudidayakan sebagai tanaman industri yang juga menjadi permasalahan. Dalam kesempatan tanya jawab, salah seorang peserta, Dr. M. Nurhuda dari Fisika FMIPA UB memberikan saran kepada Kementerian ESDM agar lebih mengakomodir hasil penelitian dosen dan peneliti dari Bangsa Indonesia sendiri sehingga bukan sekedar menjadi komoditas media dan politik tanpa realisasi nyata. [nok]

sumber: http://prasetya.brawijaya.ac.id/jan10.html#evita


Sensasi Rasa dan Sehat di Bakso Jamur Pak Kenthos

Januari 11, 2010
http://www.krjogja.com/krjogja/news/detail/12322/Sensasi.Rasa.dan.Sehat.di.Bakso.Jamur.Pak.Kenthos.html
Minggu, 20 Desember 2009 12:38:00
Bakso Jamur (Foto:Fira Nurfiani)

BANTUL (KRjogja.com) – Bakso memang sudah menjadi makanan favorit di Indonesia. Makanan yang terbuat dari aneka daging dan berbentuk bulat ini memberi rasa nikmat tidak terkira bagi penyantapnya.

Namun, ada kalanya kuliner lezat ini terasa jenuh untuk dinikmati. Dan, Kini, ada kreasi baru dari Bakso Jamur Pak Kenthos yang berada di Jalan Parangtritis Km 11 Bantul, Yogyakarta. Sesuai namanya, bahan baku bakso berasal dari 25 % Jamur Tiram dan 75 % Daging Sapi dengan kuah sumsum tulang sapi ditaburi Jamur Merang yang menggoda lidah.

“Pada mulanya bakso jamur hanya ingin memberi bentuk atau rasa baru. Namun,pada akhirnya memberi nilai tambah pada gizi melalui jamur tiram maupun jamur merang yang digunakan,” kata Pegawai Bakso Jamur Pak Kenthos, Heru saat dijumpai di Bantul Minggu (20/12).

Menurut Heru, pembuatan bakso jamur ini sekedar coba-coba yang dilakukan Pak Kenthos. Jamur digunakan sebagai isi dan pelengkap hidangan lezat ini dalam satu mangkok. Tidak mengherankan dalam satu hari mampu menggiling 10 kilogram jamur tiram, 7 kilogram jamur merang dan daging sapi 15 kilogram. Selain itu mampu meraup keuntungan sebesar Rp 2,5 juta di tiga warung bakso yang ada.

“Untuk bahan baku, kami tidak mengalami kesulitan karena mudah diperoleh. Bakso ini bisa dinikmati dengan harga Rp 6.000 di dua lokasi lainnya seperti Ringroad Manding dan Panjangrejo Pundong Bantul,” paparya.

Heru menambahkan selain menyediakan bakso jamur sebagai menu utama, Warung Pak Kenthos menyajikan berbagai menu special seperti nasi goreng jamur, tongseng jamur dan menu terbaru nya adalah jamur crispy serta aneka minuman yang menggugah selera yaitu Es Palu Butung khas Sulawesi dan Aneka Juice Buah. (Fir)


OPTIMASI PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF TERBARUKAN

Januari 6, 2010

S u r y a

Dosen Jurusan Teknologi Politeknik Negeri Lampung

Industri tapioka selain menghasilkan tepung tapioka (hanya sekitar 30% dari ubikayu yang diolah) juga menghasilkan limbah cair 4-5 m3/ton ubikayu yang diolah dengan kandungan bahan organik sangat tinggi (lebih 5000 mg/l). Limbah cair industri ini akan mencemari lingkungan bila titak dikelola dengan terpadu dan mudah mengalami penguraian (biodegradable). Saat ini sistim pengolahan air limbah yang banyak dilakukan adalah pengolahan secara biologis anaerobik dengan kolam-kolam (ponds).  Penerapan sistim ini akan menghasilkan gas CO2 dan metana (CH4) yang merupakan emisi gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Metana yang dihasilkan tersebut sebenarnya gas yang dapat dibakar (fleameable gas) sehingga dapat dijadikan sumber energi alternatif terbarukan (bioenergi).  Dengan kata lain, pengolahan limbah cair industri tapioka dapat menghasilkan sumber energi baru terbarukan yaitu dengan menampung gas metana tersebut dan sekaligus mengurangi dampak pemanasan global.

Hasil pengukuran emisi gas di kolam anaerobik industri tapioka menunjukkan bahwa setiap 1 ton ubikayu dapat menghasilkan 24,4 m3 biogas atau 14,6-15,8 m3 metana/ton ubikayu yang diolah.  Namun hasil tersebut belum maksimal, karena secara teoritis dapat dihasilkan 25-35 m3 gas metana setiap 1 ton ubikayu yang diolah.  Untuk itu perlu dilakukan optimasi produksi biogas dengan melakukan rekayasa waktu tinggal hidraulik (WTH)  dari air limbah pada bioreaktor anaerobik.  Rekayasa WTH akan menentukan tingkat laju alir pembebanan air limbah pada bioreaktor, sehingga akan dapat mempengaruhi produksi biogas yang akan dihasilkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi fermentasi air limbah industri tapioka yang optimal dalam menghasilkan biogas.  Untuk mendapatkan itu dilakukan rekayasa waktu tinggal hidraulik (WTH) pada bioreaktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan produksi biogas. Diharapkan dengan diketahui kondisi fermentasi yang optimal dalam menghasilkan biogas, energi baru terbarukan yang dihasilkan dapat mensuplai kebutuhan energi pada industri tersebut sehingga dapat meningkatkan daya saing industri, dan sekaligus dapat mengurangi dampak pemanasan global yang memici perubahan iklim global.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menyajikan data hasil pengamatan yang telah dianalisis dalam bentuk tabel dan grafik. Perlakuan yang diberikan untuk mendapatkan optimasi produksi biogas adalah waktu tinggal hidraulik (WTH) 30 hari (laju alir pembebanan pada bioreaktor 50L adalah 1,7 l/hari), WTH 25 hari (laju alir pembebanan 2,0 l/hari),WTH 20 hari (laju alir pembebanan 2,5 l/hari) dan WTH 15 hari (laju alir pembebanan 3,3 l/hari). Pengamatan dan pengukuran yang dilakukan adalah suhu dan pH air limbah, T-COD, TSS dan VSS, produksi biogas, konsentrasi gas metana, karbondioksida dan nitrogen.

Hasil penelitian menunjukkan WTH 15 hari yang merupakan tingkat laju alir pembebanan yang tertinggi 3,3 l/hari menghasilkan produksi biogas tertinggi yaitu sebesar 3,27 L/g COD tersisihkan atau sebesar 0,46 L/L air limbah yang diolah. Semakin lama WTH atau semakin kecil tingkat pembebanan yang diberikan akan menghasilkan tingkat efisiensi dan produksi biogas yang makin rendah.  Produksi dan konsentrasi gas metana yang menyebabkan biogas dapat terbakar semakin tinggi dengan semakin pendeknya WTH atau semakin besar tingkat pembebenan yang diberikan yaitu sebesar 9,21 L/hari dan konsentrasi 49,19% pada WTH 15 hari dalam volume bioreaktor 50 liter.

Abstrak makalah pada seminar nasional Pengembangan agroindustri berbasis sumberdaya lokal di UB Agustus 2008


Memulai dari sedikit

Desember 29, 2009

banayk pertanyaan tentang cara budidaya jamur tiram. dapatah dimulai dengan jumlah sedikit. saran saya sebaiknya memang dari sedikit sehingga jika gagal tahu kesalahan dan tidak rugi jika bosan hanya rugi sedikit. hitung-hitung cari pengalaman.

jangan takut untuk mencoba. pelajari segala kegagalan.

saya juga pernah mencoba dengan ukuran log yang hanya sedikit tidak lebih dari 50 buah. dan tempat yang tidak sesuai sebenarnya untuk memulai yaityu di garasi. hanya untuk tahu seperti apa pertumbuhannya. jika tertarik baru dikembangkan dengan kondisi sesuai keadaan yang baik bagi pertumbuhan.

budaiay jamur tiram di garasi

budiday jamur di garasi


Produksi jamur Tiram dari Baglog Alang-alang

Desember 22, 2009

Abdul Karim Parlindungan

Jurnal Natur Indonesia 5(2): 152-156 (2003)

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900 dan jamur tiram kelabu (Pleurotus sajor caju) pada tahun 1974 (Gunawan 2000). Untuk memproduksi kedua spesies jamur tersebut sebagai bahan makanan manusia, salah satu faktor yang perlu diperhatikan yaitu tersedianya substrat sederhana dan murah (Brock & Michael 1991). Pada umumnya substrat yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji. Sebagai konsekuensi akan timbul masalah apabila serbuk gergaji sukar diperoleh atau tidak ada sama sekali di lokasi yang akan menjadi sasaran penyebaran budidaya jamur tiram. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi perlu dicari substrat alternatif yang banyak tersedia dan mudah diperoleh di daerah tersebut.

Sebelum membuat keputusan untuk membudidayakan jamur tiram di suatu daerah maka salah satu pertimbangan yang perlu diambil adalah ketersediaan substrat pertumbuhan jamur. Hal tersebut diperlukan agar budidaya jamur yang akan dilakukan di suatu daerah tertentu dapat berlangsung secara berkesinambungan. Pada umumnya teknologi budidaya yang diterapkan para petani jamur tiram yaitu penggunaan serbuk gergaji sebagai substrat menjadi
“baglog” yaitu substrat yang dikemas didalam kantong plastik tahan panas.

pupuk NPK (0,5%) memberikan jumlah rumpun jamur tiram putih dan tiram kelabu yang tidak lebih baik daripada SP36.

Dari hasil percobaan ini dapat dibuat kesimpulan bahwa karakteristik pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih pada baglog alang-alang yang sudah direndam dengan larutan 1% SP36 adalah yang terbaik diantara jamur tiram putih dan tiram kelabu pada baglog alang-alang yang sudah direndam dengan 0,5% NPK dan jamur tiram kelabu yang baglognya sudah direndam dengan 1% SP36. Namun karakteristik pertumbuhan dua spesies jamur tiram ini pada baglog alang-alang belum dapat menyamai karakteristik pertumbuhan dan produksi jamur tiram pada baglog serbuk gergaji


Pelatihan Jamur Tiram Jogjakarta dan sekitarnya

Desember 17, 2009

Pelatihan Jamur dari:
membuat kultur murni (indukan bibit),
bibit,
budidaya,
sampai pemasaran
terdekat tanggal 27 Desember 2009, untuk berikutnya silahkan kontak saya di Fak Pertanian UPN Jogja atau silahkan kunjungi blog saya: http://Sumarsih07.wordpress.com


Meningkatkan Produktivitas Jagung di Lahan Kering Masam Daerah Tobasa Dengan Metode Bioteknologi Del

November 28, 2009

Fidian Ernawati

ABSTRAK

Bioteknologi Pertanian Yayasan Del adalah lembaga swasta yang bertujuan  meningkatkan hasil produksi pertanian dengan tetap menjaga keseimbangan alam, meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan, dan memaksimalkan potensi lahan supaya dapat meningkatkan keuntungan petani. Salah satu upaya mencapai tujuan tersebut, telah dilakukan penelitian komposisi pupuk anorganik, organik, dan mikroba BioP2000Z untuk meningkatkan produktivitas jagung di lahan kering masam daerah Tobasa sejak tahun 2006.

Penelitian dilaksanakan di lahan petani seluas 45ha di empat kecamatan (Laguboti, Balige, Tampahan, dan Silaen), dengan ciri: sifat tanah masam (pH 4-5,5), lahan tidur/bukaan baru, kemiringan lahan 10-45%, tanah latosol merah kekuningan, tekstur tanah lempung berpasir mengandung kwarsa dan memiliki tingkat erosi tinggi. Penelitian dilakukan dengan metode pengamatan secara visual terhadap hasil produksi tanaman pada tiga macam perlakuan: (a)tanpa pemupukan (K0), (b)konvensional: pemupukan kimia berimbang tanpa metode BioteknologiDel (K1), (c)metode BioteknologiDel: BioP2000Z  4 l/ha, pupuk anorganik N= 115 kg/ha, P= 45 kg/ha, K= 48 kg/ha, pupuk kandang ayam 2ton/ha (K2).

Hasil panen menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas pipil kering: K0 adalah nol (tanaman mati setelah tiga minggu atau 20% tanaman hidup tetapi tidak berproduksi), K1= 3,26 ton/ha dan K2= 10,6 ton/ha. Terhadap tanah terjadi peningkatan pH dari rata-rata 4-5,5 menjadi 5,5-6,8.

Disimpulkan bahwa: (a)metode BioteknologiDel dibandingkan dengan konvensional meningkatkan produktivitas jagung hingga 300%, (b)tidak dihasilkannya buah tongkol pada K0 menunjukkan hara alami di lahan bukaan baru lokasi penelitian tidak cukup untuk tumbuh kembang tanaman, (c)produktivitas pada K1 menunjukkan hara yang diserap belum cukup untuk tanaman berproduksi secara optimal, (d)produktivitas pada K2 menunjukkan hara diserap sesuai kebutuhan tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi optimal, (e)tambahan keuntungan yang diperoleh petani dengan metode BioteknologiDel dibandingkan konvensional pada lokasi penelitian rata-rata lebih dari Rp 10 juta/ha. Implikasi hasil penelitian: lahan kering masam di daerah Tobasa dapat diproduktifkan dengan metoda BioteknologiDel serta mengurangi dosis pupuk anorganik secara bertahap dan menjadikan produk organik.


Peneliti pada Bioteknologi Yayasan Del, Kampus Politeknik Informatika Del, desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Sumatera Utara.

 

makalah pada seminar nasional di Malang 14 Agustus 2008 tersedia prosiding dalam bentuk CD

Telp: 0632-331234, Fax: 0632-331116.

Email: di4n99@yahoo.com